Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Bunda Rindu Ini Menyakitkan

 

                                                



 Bunda Rindu Ini Menyakitkan


Aku seorang pengembara yang bergandengan tangan dengan matahari. Biarkan aku tidur pulas di atas pangkuan rembulan. Biarkan kulintasi samudera luas yang ganas dan jahat. Biarkan aku terbangun bagai kelelawar malam. 


Indah bola matamu laksana permata tulen, yang menghiasi singgasana raja. Pekat hitam rambutmu, ikal mayang panjang sebahu, membuat kerinduanku semakin menjadi oh bundaku. Sosok bunda bak peri di alam dongeng, yang selalu mewarnai indahnya setiap detik dalam denyutan nadiku. Kerap kali batin ini bertanya, mengapa harus ada kata rindu?
 

Dengan hadirnya kata rindu, maka hadir pula kerinduanku pada dia. Iya dialah bundaku. Bunda, engkaulah cinta pertamaku. Sekarang rindu itu tak sirna dilahap sang waktu. Tak pudar terkikis oleh ganasnya ombak di samudera. Tak punah dibawa lari oleh terbenamnya sang mentari.


Namun yang akan tetap datang bersama terbitnya sang fajar menyingsing di pagi hari. Oh bundaku, dalam kemelut pecahan hatiku yang gundah dibunuh rindu.  Aku menyebut nama indahmu dalam untaian doaku pada Sang Khalik yang mahacinta.
 

Dengan jiwa penuh asa, berharap sepenuhnya, bahwa bunda terus dalam pelukan cinta-Nya. Tuhan, aku mau mengungkapkan rasa terima kasih yang tak tertakarkan lagi, pada-Mu. Karena di hari penciptaan, bundaku tidak lupa Kau ciptakan.

 

Namun, aku juga benci mengapa Kau harus rangkaikan sebuah rangkaian jarak, sehingga aku dan bunda terpisah jauh. Jarak itu jahat. Jahat sejahat-jahatnya.


Tuhan terima kasih ya, untuk tikaman rindu yang kian membara ini. Bunda, bunda, oh bunda, rasanya rindu ini benar-benar menikam jantungku. Bunda, ingin raga ini berteriak dengan nada tinggi membelah antariksa!, supaya rasa pahitnya rindu ini bisa terdengar oleh bisikan hatimu.

 

Bahkan terseret juga dalam mimpi di tidur malamku. Bunda hadir sebagai sutradara utama mimpi itu. Dan ragaku seakan tak mau bangun karena takut perpisahan merobek perjumpaan manis kita. Namun aku terbangun. Sontak jiwa ini meronta-ronta, saat sadar bahwa pertemuan sesaat tadi hanyalah sebuah bunga tidur yang semu.

 

Akhirnya jiwa ini berkesimpulan untuk memejamkan kedua mata, agar kembali tertidur. Dengan penuh harap akan berjumpa dirimu lagi bundaku. Namun semua harapanku sia-sia belaka, usahaku gagal total, hancur berkeping-keping. Dalam lelapku sosokmu tidak hadir lagi bunda. Kini, saat ini, bahkan detik ini, rasa rindu pada bunda terus menghantuiku.

Bunda aku rindu padamu.


Posting Komentar untuk "Bunda Rindu Ini Menyakitkan"