Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

EKSPOSISI GALATIA

 




EKSPOSISI

GALATIA 6:1-10 



BAB I

LATAR BELAKANG

 

Kitab Galatia merupakan surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Nama Kitab ini berasal dari nama tempat yang menjadi tujuannya. Orang-orang Galatia adalah orang-orang yang berasal dari suku bangsa Keltik yang pada masa itu tinggal di Asia Kecil. Setelah Injil diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, mulai muncul pertanyaan, apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati seseorang harus menaati hukum agama Yahudi? Paulus mengemukakan bahwa hal itu tidak perlu, sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Tuhan menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang kepada jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah daerah di Anatolia Pusat di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk menjadi Kristen yang sejati, harus melaksanakan hukum agama Yahudi. 

Surat Galatia ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran palsu. Dengan kata lain, supaya mereka kembali taat kepada ajaran yang benar. Paulus memulai suratnya ini dengan berkata bahwa ia adalah rasul Yesus Kristus. Paulus dengan tegas mengatakan bahwa dia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi rasul dan bukan dari manusia. Dia juga mengatakan bahwa tugasnya ditujukan terutama untuk orang yang bukan Yahudi (1-2). Setelah itu, Paulus mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa hubungan manusia dengan Tuhan diperbaharui atau menjadi baik kembali hanya melalui percaya kepada Kristus. Di dalam pasal-pasal terakhir kitab ini (5-6), Paulus menjelaskan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen itu disebabkan karena iman percayanya kepada Kristus. Iman percaya tersebut akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan karakter Kristus, yaitu kasih.[1]

Jemaat-jemaat di Galatia meliputi beberapa daerah satu provinsi. Yakni Antiokhia, Ikonium, Derbe, Disidia, Listra, Frigia dan Liakonia. Yang mana setengah dari penduduk merupakan migrasi dari daerah Eropa, yakni “suku gaul”, suku ini adalah tulen penyembah berhala yang kemudian kawin campur dengan sebagian orang Yahudi yang bermigrasi ke daerah tersebut. Dan pada pemerintahan kaisar Klaudius, kaisar memasukkan daerah ini menjadi wilayah provinsi pemerintahan kekaisaran Romawi. Penduduk-penduduk di Galatia memiliki gaya hidup yang keras dalam mempertahankan tradisi keyahudian (Taurat, Sunat, dll). Penduduk di Galatia juga merupakan penduduk yang kurang berpendirian dan banyak hal negatif yang terjadi seperti pada Galatia 5:19-21.[2]

Galatia 5:1 sampai 6:10 merupakan aspek praktis dari Injil Kristus yang radikal yang disampaikan oleh Paulus, yang menjadi bagian dari orang percaya melalui kasih dan anugerah Allah dan tanggapan iman pertobatan mereka. Pasal 6:1-5 memberi kita pedoman yang spesifik tentang bagaimana berurusan dengan saudara Kristen yang berbuat dosa. Sedangkan pasal 6:6-10 memiliki dua kutipan yang paling mengesankan dalam PB.[3] 

BAB II

STRUKTUR TEKS DAN TAFSIRAN

 

A.    TANGGUNG JAWAB MORAL ORANG PERCAYA

 

1.      Menolong Mereka Yang Jatuh Dalam Dosa (Ay. 1)

Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

 

Ø  Kemungkinan berbuat salah terbuka bagi setiap orang. Tugas kita bukan menghakimi, mengkritik, menggosipkan, menjelekkan tetapi menolongnya. Menolong orang yang jatuh adalah gaya hidup orang yang rohani. Orang rohani harus “memimpin” orang yang jatuh, maksudnya membuat mereka kembali kedalam keadaan baik. Pada saat yang bersamaan kita diingatkan agar tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan jebakan dosa.[4]

 

Ø  Kata “memimpin” dalam bahasa Yunani katartizo berarti “memulihkan”. Kata ini dipakai dalam PB untuk membetulkan jaring atau menyempurnakan watak manusia. Jadi, memulihkan seseorang berarti memimpin orang itu kembali kepada pertobatan yang benar dan penyerahan sepenuhnya kepada Kristus dan ajaran-ajaranNya. Hal ini meliputi tindakan disiplin yang dilaksanakan dengan “lemah lembut”.[5]

 

 

Ø  “kalaupun” kai kata ini mengantar sebuah Kalimat Third Class Conditional yang berarti tindakan potensial, yang mungkin terjadi. “kalaupun seorang kedapatan” kai. prolhfqh/| a;nqrwpoj,[6] ini adalah sebuah Aorist Passive Subjunctive. Secara harfiah “terkejut” (tidak sengaja). Beberapa orang tidak secara sengaja melanggar karunia Allah.[7]

 

Ø  “melakukan suatu pelanggaran” tini paraptw,mati([8]

NASB, NKJV “dalam pelanggaran apapun”

NRSV “melakukan suatu pelanggaran”

TEV “dalam jenis kesalahan apapun”

NJB “bertingkah”

Setidaknya hal ini dapat dirujuk dalam kaitan dengan guru-guru palsu, ini dapat merujuk kepada mereka yang telah menyerah pada godaan untuk disunat dan berusaha untuk mendapatkan kesempurnaan melalui Hukum Musa.[9]

 

Ø  Pedoman yang berikut sangatlah membantu untuk menunjukkan pada gereja bagaimana orang percaya harus memulihkan seorang saudara yang jatuh utnuk kembali kedalam persekutuan.

u`mei/j oi` pneumatikoi.[10]

NASB, TEV “kamu yang rohani”

NKJV “kamu yang rohani”

NRSV “kamu yang telah menerima Roh”

NJB “yang lebih rohani dari kamu”

Hal ini tidak boleh disalahartikan untuk berarti “kamu yang tidak berdosa”. Kedewasaan rohani adalah:[11]

o   Memiliki pikiran Kristus

o   Menjalankan buah Roh

o   Memiliki hati hamba

o   Melayani sesama orang Kristen

 

Ø  “harus memimpin orang itu ke jalan yang benar”/“memulihkan”

katarti,zete to.n toiou/ton evn[12] adalah sebuah Present Active Imperative, sebuah perintah yang terus/sedang berlangsung. Pentinglah bagi mereka yang telah dewasa dalam Kristus untuk membantu semua orang lain dalam gereja untuk mencapai status keberadaan tersebut (Ef. 4:13) dan mengembalikan mereka yang telah jatuh (2 Kor. 13:11).[13]

 

Ø  “sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” [peirazō] dalam konteks ini memiliki konotasi “menggoda dengan pandangan ke arah kehancuran” Kata yang sama ini digunakan untuk si jahat yang menggoda Yesus dalam Matius 4. Setan akan menguji dan mencobai orang percaya dalam rangka untuk menghancurkan mereka. Orang percaya harus waspada, luar dan dalam[14].

 

2.      Menolong Orang Lain Yang Menanggung Beban (Ay. 2)

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

Ø  “Beban” adalah suatu kesulitan yang dialami sebagai akibat dari sesuatu peristiwa, kejadian dan sebagainya. Ayat ini tentu sekali berhubungan dengan apa yang disebutkan di atas. Dan prinsip kebenaran yang terdapat di sini adalah menerapkan ajaran kasih Kristus dalam perbuatan nyata secara tulus dalam segala kebersamaan.[15]

 

Ø  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu”Allh,lwn ta. ba,rh[16] merupakan sebuah Present Active Imperative. “Satu sama lain” ditempatkan dalam suatu posisi yang tegas dalam kalimat Yunani. Sebagai suatu cara hidup orang Kristen dewasa, harus menolong orang yang lebih lemah dari mereka, yaitu saudara-saudara yang kurang dewasa.[17]

 

Ø  “Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” Hukum Kristus juga disebutkan dalam 1 Kor. 9:21 dan “hukum Roh kehidupan di dalam Yesus Kristus” dalam Rm. 8:2. Kuk Kristus adalah mudah dan ringan (Mat. 11:29-30), dan kuk ini adalah tanggung jawab kita untuk mengasihi dan melayani satu sama lain sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.[18]

 

3.      Jangan Bermegah Dan Sombong (Ay. 3-4)

Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

Ø  “kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti” Eiv ga.r dokei/ tij ei=nai, ti( mhde.n w;n[19] merupakan sebuah Kalimat First Class Conditional, yang diasumsikan benar dari perspektif penulis atau untuk tujuan sastra penulis. Orang Kristen harus menilai diri mereka sendiri sehingga mereka dapat berhubungan secara pantas satu sama lain dan dapat menghindari hal yang melebih-lebihkan diri mereka sendiri. Dalam hal ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak memiliki dosa, tetapi dosa tidak mendominasi kehidupan mereka (1 Yoh. 1:8; 3:6, 9). Oleh karena itu, mereka dapat membantu dan berdoa bagi mereka yang hidupnya didominasi oleh dosa (1 Kor. 3:18).[20]

 

Ø  “Tetapi masing-masing harus memeriksa pekerjaan sendiri” Ini adalah sebuah Present Active Imperative dari istilah untuk “menguji” atau “menggoda” (dokimazō) dengan konotasi “menguji dengan maksud untuk persetujuan.” Dan kemudian dia akan memiliki alasan bermegah untuk dirinya sendiri. Orang percaya harus berhati-hati untuk tidak saling membandingkan diri mereka satu sama lain terutama mereka yang telah dikejutkan dan dikuasai oleh dosa.[21]

 

Ø  “bermegah” istilah Yunani kauchaomaikauchēma, dan kauchēsis[22] ini digunakan kira-kira sebanyak tiga puluh lima kali oleh Paulus dan hanya dua kali di luar surat Paulus di PB (keduanya di surat Yakobus). Ada dua kebenaran pokok yang berhubungan dengan bermegah:[23]

o   Tidak ada daging yang akan berbangga/bermegah dihadapan Allah (1 Kor. 1:29; Ef. 2:9).

o   Orang percaya harus bermegah di dalam Tuhan (1 Kor. 1:31). Oleh karenanya, ada berbangga/bermegah yang pantas dan yang tidak (yaitu: kesombongan).

 

4.      Menjaga Tanggung Jawab Masing-Masing Pribadi (Ay. 5)

Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

 

Ø  “Untuk masing-masing akan menanggung beban sendiri” ini bisa merujuk pada takhta pengadilan Kristus dalam suatu pengaturan eskatologis/akhir zaman (2 Kor. 5:10). Ayat 2 dan 5 tampaknya bertentangan satu sama lain, kajian leksikal yang lebih dekat menunjukkan bahwa ke dua kata yang diterjemahkan berturut-turut sebagai “beban” dan “tanggungan” ini memiliki penggunaan yang berbeda. Kata pertama di ayat 2 baros[24] berarti “berat yang meremukkan,” sementara kata yang terakhir dalam ayat 5 phortion[25] berarti “ransel prajurit yang penuh dengan peralatan yang diperlukan.” Orang Kristen yang dewasa harus membawa beban tanggung jawab untuk diri mereka sendiri.[26]

 

5.      Berbagi Dengan Orang Lain “Hamba Tuhan” (Ay. 6)

Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

 

Ø  Kewajiban semua orang yang diajarkan Firman Allah ialah membantu menyediakan tunjangan materi bagi mereka yang mengajar. Mereka yang layak disokong adalah para gembala, pekerja, guru, penginjil dan misionaris yang setia (1 Kor. 9:14). Memberi kepada mereka yang melayani Firman termasuk perbuatan baik terhadap mereka yang menjadi anggota keluarga orang beriman. Mereka yang diajar berada di bawah tanggung jawab rohani, harus memperhatikan orang-orang yang mengajar mereka. Ini adalah sebuah prinsip umum, dan meskipun Paulus tidak secara pribadi mengambil keuntungan untuk penghasilan pribadi, ia menganjurkannya untuk para pelayan lainnya.([27])([28])

 

 

B.     BIMBINGAN MORAL BAGI ORANG PERCAYA

 

1.      Peringatan Atas Hukum Tabur Tuai (Ay. 7)

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

 

Ø  “Jangan sesat!” Mh. plana/sqe[29] merupakan sebuah Present Passive Imperative dengan suatu Negative Particle yang biasanya berarti menghentikan suatu tindakan yang sudah dalam proses. (misalnya mereka yang sudah tertipu (1 Kor. 6:9).[30]

Ø  “Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan” kata kerja ini merujuk pada mereka yang dipanggil untuk melayani sebagai wakil Allah, yaitu para guru. Mencemooh para pelayan Kristen, dalam suatu pengertian, berarti menemooh Tuhan. [31]

Ø  “Karena apa yang ditabur orang” Ini adalah sebuah prinsip rohani. Allah bersifat etis-moral dan begitu juga ciptaan-Nya. Ketika manusia melanggar standar-standar Allah, maka kita akan menuai apa yang kita tabur. Hal ini berlaku bagi orang percaya, tetapi tidak mempengaruhi keselamatan (Ayb. 34:11; Mzm. 28:4; Ams. 24:12; Pkh. 12:14; Yer. 17:10; Mat. 16:27; 1 Ptr. 1:17; Why. 2:23).[32]

 

2.      Bahaya Menabur Dalam Daging Dan Upah Menabur Dalam Roh (Ay. 8)

Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

 

Ø  Prinsip ini ditetapkan Allah sejak awal dan harus disadari dan diperhatikan setiap umat Tuhan. Kita akan menuai apa yang kita tabur bukan saja jumlahnya tetapi jenisnya. Menabur dalam hawa nafsu menuai kebinasaan. Menabur dalam Roh menuai kehidupan.[33]

 

Ø  “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya” Ini menunjuk pada dua pendekatan dasar untuk menjadi benar dengan Allah, kesetiaan manusia (Rm. 8:6-8,13) dan kasih karunia gratis (Rm. 8:2-4,6,12-14).

binasa” phtheirō, arti dasar dari istilah phtheirō adalah menghancurkan, meruntuhkan, merusak, atau membusukkan. Kata ini dapat digunakan untuk; kehancuran badani, kerusakan moral, godaan seksual.[34]

Ø  “hidup yang kekal”, konsep kehidupan kekal yang ditemukan dalam ayat 8 adalah dari kata Yunani zoē. Ini khususnya digunakan oleh Yohanes untuk menyebut hidup kebangkitan, kehidupan zaman baru (Rm. 5:21; Titus. 1:2; 3:7). Ayat ini menunjukkan konsekuensi dari tindakan menabur dan menuai.[35]

 

3.      Dorongan Untuk Berbuat Baik Dan Setia Berbuat Baik (Ay. 9)

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

 

Ø  “Jemu”, sama dengan melalaikan. “menjadi lemah” kehilangan semangat, kehabisan tenaga. Kita diingatkan jangan terjadi demikian. Pahala, keuntungan, berkat bagi setiap orang yang berbuat kebaikan kepada sesamanya pasti akan diterimanya. Janji ini pasti terjadi pada “waktunya”.[36]

 

Ø  “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik” To. de. kalo.n poiou/ntej mh. evkkakw/men[37] Ini secara harfiah adalah “putus asa” atau “patah semangat” (Negated Present Active Subjunctive). Seringkali orang Kristen merasa jemu dengan hal-hal yang sama yang harus mereka lakukan sesuai panggilan mereka.[38]

 

Ø  “karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”. Hal ini dikondisikan pada tanggapan iman kita yang berkelanjutan.[39]

 

4.      Jangan Lewatkan Kesempatan Yang Hanya Datang Sekali (Ay. 10)

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman

 

Ø  “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita” Orang percaya harus terus mengamati peluang untuk menjalani iman mereka dalam Kristus, serta respon iman kita secara berkelanjutan. Frasa ini akan menunjuk pada:[40]

o   Peluang dalam kehidupan sehari-hari.

o   Sebelum penganiayaan datang.

o   Sebelum Kedatangan Kedua.

 

Ø  “marilah kita berbuat baik” evrgazw,meqa to. avgaqo.n[41] merupakan sebuah Present Middle (Deponent) Subjunctive. Paulus menyatakan dengan keyakinan bahwa status keberadaan kita dengan Allah tidak dihasilkan oleh usaha manusia, tetapi ia juga menegaskan, apanila kita mengenal Allah, maka kita harus menjalani kehidupan pelayanan. Kita tidak diselamatkan oleh pekerjaan baik, tapi hampir bisa dipastikan bahwa kita diselamatkan untuk perbuatan baik.[42]

 

Ø  “kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” kita diarahkan kearah penginjilan dalam semua tindakan kita. Namun demikian, fokus utama kita, sejauh persekutuan, adalah pada anggota keluarga Allah.[43]

 

 

Posting Komentar untuk "EKSPOSISI GALATIA "