Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Eksposisi kitab Ayub (Pasal 17-25)

 






                                                    Eksposisi kitab Ayub (Pasal 17-25)

Ayub 17

 

  • Pasal ini terdiri dari 16 ayat.
  • Merupakan babak kedua percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 15 sampai 21. Mereka mengembangkan apa yang telah mereka katakan sebelumnya, hanya dengan lebih gigih lagi. Ayub dengan tabah berpaut kepada Allah, sedangkan pada saat bersamaan mempertahankan ketidaksalahannya serta tetap menegaskan bahwa penderitaannya itu tidak adil (misalnya Ayub 16:19-21).
  • Berisi jawaban Ayub atas perkataan kedua Elifas, orang Teman, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.
  • Merupakan satu rangkaian dengan pasal 16.

Struktur

Ayat 1

" Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan.

Sebagai orang yang sudah hancur hati, Ayub percaya bahwa sebentar lagi ia akan mati. Ia memandang dirinya sebagai orang yang ditinggalkan Allah dan menjadi sasaran cemoohan rekan-rekannya. Ayub tidak bisa berbuat apa-apa selain tabah di dalam keyakinannya bahwa ia benar (Ayub 17:9), mempertahankan keyakinannya akan keadilan Allah, sekalipun semua situasi kelihatan bertentangan (Ayub 16:19-22)

 

Ayub 18

  • Pasal ini terdiri dari 21 ayat.
  • Merupakan babak kedua percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 15 sampai 21. Mereka mengembangkan apa yang telah mereka katakan sebelumnya, hanya dengan lebih gigih lagi. Ayub dengan tabah berpaut kepada Allah, sedangkan pada saat bersamaan mempertahankan ketidaksalahannya serta tetap menegaskan bahwa penderitaannya itu tidak adil (misalnya Ayub 16:19-21)
  • Berisi perkataan kedua Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.

Struktur

Ayub 19

  • Pasal ini terdiri dari 29 ayat.
  • Merupakan babak kedua percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 15 sampai 21. Mereka mengembangkan apa yang telah mereka katakan sebelumnya, hanya dengan lebih gigih lagi. Ayub dengan tabah berpaut kepada Allah, sedangkan pada saat bersamaan mempertahankan ketidaksalahannya serta tetap menegaskan bahwa penderitaannya itu tidak adil (misalnya Ayub 16:19-21).
  • Berisi jawaban Ayub atas perkataan kedua Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.

Ayat 25

"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu."[4]

Di tengah-tengah penderitaan dan keputusasaannya, Ayub dengan iman yang besar berpaut kepada Allah, sebab percaya bahwa pada akhirnya Tuhan akan membenarkan dirinya (bandingkan Ayub 13:15; 14:14-15). Ayub memandang Allah selaku "penebus" atau penolong. Di zaman Alkitab seorang "penebus" adalah seorang kerabat yang dengan penuh kasih datang untuk melindungi, membela, dan menolong pada masa kesulitan (lihat Imamat 25:25; Ulangan 25:5-10; Rut 1:4; juga lihat Kejadian 48:16; Keluaran 6:5; Yesaya 43:1; Hosea 13:14) dan membenarkan kerabatnya yang menderita.

Di bawah ilham Roh Kudus, kesaksian Ayub menunjuk kepada Yesus Kristus, sang "Penebus", yang akan datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan kutukan (Roma 3:24; Galatia 3:13; 4:5; Efesus 1:7; Titus 2:14), membebaskan mereka dari ketakutan akan kematian (Ibrani 2:14-15; Roma 8:23), memberi mereka hidup kekal (Yohanes 3:16; Roma 6:23), menyelamatkan mereka dari murka yang akan datang (1 Tesalonika 1:10) dan membenarkan mereka secara terbuka (bandingkan Wahyu 19:11-21; 20:1-6). Di sini Ayub menubuatkan manifestasi yang kelihatan dari Penebus ilahi ini.

 

Ayub 20

  • Pasal ini terdiri dari 29 ayat.
  • Merupakan babak kedua percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 15 sampai 21. Mereka mengembangkan apa yang telah mereka katakan sebelumnya, hanya dengan lebih gigih lagi. Ayub dengan tabah berpaut kepada Allah, sedangkan pada saat bersamaan mempertahankan ketidaksalahannya serta tetap menegaskan bahwa penderitaannya itu tidak adil (misalnya Ayub 16:19-21).[3]
  • Berisi perkataan kedua Zofar, orang Naama, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.

 

Ayub 21.

  • Pasal ini terdiri dari 34 ayat.
  • Merupakan babak kedua percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 15 sampai 21. Mereka mengembangkan apa yang telah mereka katakan sebelumnya, hanya dengan lebih gigih lagi. Ayub dengan tabah berpaut kepada Allah, sedangkan pada saat bersamaan mempertahankan ketidaksalahannya serta tetap menegaskan bahwa penderitaannya itu tidak adil (misalnya Ayub 16:19-21).
  • Berisi jawaban Ayub atas perkataan kedua Zofar, orang Naama, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.

Ayat 7

"Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat?"

Ayub mempersoalkan ketidakadilan hidup ini, khususnya kemakmuran, keberhasilan, dan kebahagiaan banyak orang fasik. Mazmur 73:1-28 membahas masalah teologi ini. Kadang-kadang yang "murni hatinya" justru "kena tulah" (Mazmur 73:1,14), sedangkan yang fasik makmur dan "kesakitan tidak ada pada mereka" (Mazmur 73:3-5). Allah menanggapinya dengan menyatakan kesudahan hidup orang benar dan orang jahat (Mazmur 73:16-28). Pada akhirnya, Allah akan dengan adil memperbaiki segala hal dan memberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya dan kasihnya akan kebenaran (Roma 2:5-11). Yang fasik tidak akan luput dari hukuman, dan yang benar pasti akan dibenarkan dan diberi pahala (Roma 2:5-11; Wahyu 2:10).

 

Ayub 22

  • Pasal ini terdiri dari 30 ayat.
  • Merupakan babak ketiga percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 22 sampai 31.
  • Berisi perkataan ketiga Elifas, orang Teman, mengenai pencobaan yang dialami Ayub. Merupakan penekanan ulang pada perkataannya di pasal 4, 5dan 15.

Struktur

Ayat 21

"Berlakulah ramah terhadap Dia (TUHAN), supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan."

Elifas menghimbau Ayub dengan doktrin pertobatan yang tradisional namun terlalu sederhana: jikalau Ayub bersedia kembali kepada Allah, menerima instruksi dari firman-Nya, merendahkan diri dan menghapus dosa dari hidupnya, dan meninggalkan ketergantungannya pada hal-hal dunia serta bersukacita di dalam Yang Mahakuasa, maka dengan sendirinya Allah akan membebaskannya dari semua kesulitan, doa-doanya akan didengar, dan keberhasilan akan mengikuti semua usahanya. Akan tetapi, Elifas bersalah dalam tiga hal.

  • 1) Pertobatan dan keselamatan tidak selalu menghasilkan kemakmuran jasmaniah dan materiel. Kadang-kadang orang beriman, justru karena kesetiaannya "menderita kekurangan, kesesakan, dan siksaan" (Ibrani 11:37); sekalipun mereka mempercayai janji-janji Allah, namun saat ini mereka "tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu" (Ibrani 11:39).
  • 2) Ketika menasihati Ayub untuk bertobat supaya memperoleh kembali kesehatan dan kemakmurannya, Elifas dengan tidak sengaja berpihak kepada Iblis dan tuduhan-tuduhannya menentang Ayub dan Allah. Iblis sebelumnya sudah menuduh Ayub melayani Allah hanya karena apa yang dapat diperoleh daripada-Nya (Ayub 1:9-11). Perhatikan bahwa jikalau Ayub bertobat karena dosa yang terduga supaya memperoleh berkat Allah, maka dia memang layak dituduh melayani Allah hanya demi keuntungan pribadi.
  • 3) Walaupun perkataan Elifas dengan fasik mengungkapkan pentingnya pertobatan, perkataan itu diucapkan dengan motivasi yang salah. Sama sekali tidak ada simpati di dalam hatinya terhadap penderitaan Ayub. Kegagalan Elifas menunjukkan bahwa amanat pertobatan yang dialamatkan kepada yang lemah dan menderita harus disertai kata-kata penghiburan dan belas kasihan.

 

Ayub 23
  • Pasal ini terdiri dari 17 ayat.
  • Merupakan babak ketiga percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 22 sampai 31.
  • Berisi jawaban Ayub atas perkataan ketiga Elifas, orang Teman, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.
  • Merupakan satu rangkaian dengan pasal 24.

Struktur

Ayat 3

"Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam."

Sepanjang pengalaman penderitaan Ayub, kerinduannya yang terbesar adalah akan kehadiran Tuhan.

  • 1) Ia jarang menyebutkan kehilangan kekayaan; ia hampir tidak menyinggung kesedihannya yang mendalam atas kehilangan semua anaknya; kehilangan kehadiran Allahlah yang diratapinya. Di tengah segala kesengsaraannya ia ingin bertemu dengan Allah dan berhubungan dengan Dia lagi (bandingkan Ayub 13:24; 16:19-21; 29:2-5).
  • 2) Kerinduan akan Allah semacam ini seharusnya menjadi ciri khas semua orang percaya sejati. "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:2-3). Kemudian, "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair" (Mazmur 63:2).

 

 

Ayub 24

 

  • Pasal ini terdiri dari 25 ayat.
  • Merupakan babak ketiga percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 22 sampai 31.
  • Berisi jawaban Ayub atas perkataan ketiga Elifas, orang Teman, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.
  • Merupakan satu rangkaian dengan pasal 23.
  • Ayub 23:1-25 = Allah seakan-akan acuh tak acuh terhadap kejahatan.

 

Ayub 25

 

  • Pasal ini terdiri dari 6 ayat. Pasal terpendek dalam Kitab Ayub.
  • Merupakan babak ketiga percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 22 sampai 31.
  • Berisi perkataan ketiga Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub.

Ayat 4

"Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?"

Referensi: Ayub 4:17.

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Eksposisi kitab Ayub (Pasal 17-25)"