Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kristus yang mengasihi saya sekarang mengorbankan nyawa-Nya

 





Kristus yang mengasihi saya sekarang mengorbankan nyawa-Nya

(Yohanes 10)

Kristus mengatakan “Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk memberikan hidup yang kekal kepadamu”. Maka dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, Dia memberikan satu hal yang paling penting boleh kita nikmati yaitu keselamatan dan hidup yang kekal di dalam Tuhan. Keselamatan dan hidup yang kekal yang terlalu sering diabaikan, terlalu sering tidak lagi kita syukuri tetapi Tuhan mengatakan di dalam bagian ini “Akulah yang memberikan kepadamu”. Saya minta kita renungkan sama-sama bagian ini sambil merenungkan mengapa Kristus harus mati di kayu salib? Karena itulah satu-satunya cara Saudara dan saya berhenti masuk dalam kehidupan yang penuh dengan ketidak-pastian. Mengapa Kristus mati di kayu salib? Supaya Saudara dan saya tidak harus mati.

Kita harus membayangkan diri kita sebagai sekelompok orang yang sedang berjalan menuju ke tempat kita akan dimatikan, tapi kemudian Kristus yang datang menggantikan posisi kita yang harusnya mati supaya kita tidak lagi harus masuk ke dalam kematian yang mengerikan itu. Inilah janji yang Tuhan berikan dalam kematian Kristus. Maka ini yang harus kita renungkan terus, “saya yang hidup dalam dunia ini, saya mendapatkan pengertian dan anugerah dari kebenaran Tuhan bahwa Kristus yang mengasihi saya sekarang mengorbankan nyawa-Nya supaya saya boleh datang kepada Allah, supaya saya boleh diselamatkan mempunyai kehidupan yang kekal”.

Maka Yesus mengatakan “Aku Gembala yang baik, apa yang Aku lakukan Aku memberikan nyawaKu, apa yang ada padaKu Aku berikan supaya kamu boleh mendapatkan keselamatan itu”, kalau ini adalah hal yang penting mengapa kita abaikan ini? Mengapa kita tidak pernah merasakan kelimpahan hidup akibat berkat yang Tuhan sudah berikan ini.

Kristus menyatakan kematian-Nya Dia alami supaya kita boleh memperoleh hidup yang kekal. Kalimat yang sederhana tapi mengandung makna yang penting dalam hidup kita. Saudara mau cari apa dalam hidup? Mau cari kemegahan, kemewahan seperti apa pun tetap tidak membuat Saudara masuk dalam hidup yang kekal. Tetapi ketika Saudara melihat kepada Kristus yang sudah datang lalu memberikan nyawaNya kepada kita semua, pada waktu itu Saudara tahu Dia sedang mengorbankan hal yang paling penting untuk hal yang paling kita perlukan.

Karena kita sudah meneladani Kristus seperti ini, kita boleh menjadi orang yang mempunyai hidup yang limpah di dalam Dia. Kita boleh menjadi orang yang mengikuti Dia, meneladani Dia langkah demi langkah untuk melakukan apa yang Dia juga lakukan. Kristus mengasihi kita sehingga Dia mempersembahkan seluruh hidupNya supaya kita memperoleh hidup yang kekal. Dan Kristus yang telah mempersembahkan diriNya inilah yang menjadi teladan untuk kita tahu bagaimana harus hidup. Bagaimana kita harus hidup? Seperti yang sudah kita bahas tadi, Kristus yang hidup di dalam dunia menjalani hidup yang sepertinya berlawanan dengan apa yang sekarang kita sedang kerjakan.

 

Inilah sifat paradox dari Kristus yang sedang kerjakan, Dia kehilangan nyawa-Nya untuk memperolehNya kembali, dia mengorbankan nyawa-Nya untuk orang lain mendapatkan kehidupan yang kekal itu, Dia meninggalkan sorga supaya kita boleh kembali pada Bapa di sorga. Jadi semua ini Dia kerjakan dengan cara yang sangat agung, dengan cara mengabaikan diri, mengosongkan diri dan membuat diri-Nya menjadi korban sepenuh-penuhnya untuk membuat kita hidup dalam kelimpahan Tuhan. Maka kita yang sudah mengenal Kristus, kita mesti mempunyai hidup yang mencari damai, mencari perkenanan Tuhan dan mencari bahagia bagi orang lain di sekitar kita dengan cara yang sama.

 

Sama seperti Kristus mengosongkan diri, demikian Tuhan menuntut kita untuk mengosongkan diri, memberikan seluruh hidup hari demi hari sepenuh-penuhnya untuk Tuhan, sepenuh-penuhnya untuk kebahagiaan orang lain. Ini yang Tuhan sendiri sudah nyatakan dalam hidupnya. Mengapa kita susah punya hidup bahagia? Karena kita terus cari bahagia buat diri. Mengapa kita susah cari damai? Karena kita terus cari damai buat diri. Mengapa Kristus ditinggikan oleh Allah? Karena Dia rela merendahkan diri. Mengapa Kristus dipermuliakan oleh Bapa? Karena Dia rela dihina.

 

Maka pernyataan Kristus kepada muridNya sekarang juga dinyatakan kepada kita, “kamu mau jadi yang paling penting, mau jadi yang paling benar, mau jadi yang mempunyai kedudukan mulia, kamu mesti siap menjadi yang paling rendah”. Maka sama seperti Kristus yang mengosongkan diri, demikian Tuhan menyatakan kepada kita “di dalam kerelaanmu mengosongkan diri di situ ada kepenuhanmu”. Bagaimana saya harus hidup? Dengan meneladani Kristus. Bagaimana meneladani Kristus? Kristus mengatakan Aku menyerahkan nyawaKu bagi domba-dombaKu.

 

Saudara juga mesti mengatakan hal yang sama “aku pun menyerahkan nyawaku untuk orang-orang lain yang ada di dalam dunia”. Bagaimana menyerahkan nyawa? Kita hanya mengerti konsep menyerahkan nyawa hanya dalam pengorbanan seperti martir. Ini pengorbanan yang sangat agung dan besar, tapi bukan hanya ini saja satu-satunya cara untuk Saudara berkorban bagi orang lain. Saudara bisa menyatakan cinta kasih Saudara dan juga pengorbanan Saudara dengan menjadi orang yang mati demi orang lain, itu benar, itu sangat baik dan itu sangat mulia. Tapi ada hal lain yang Tuhan tuntut, meskipun Saudara tidak mendapatkan kesempatan untuk mengorbankan nyawa demi yang lain, tetapi Saudara juga diberikan kesempatan untuk menghabiskan hidup demi yang lain.

 

Jadi bukan mati bagi orang lain tapi hidup demi orang lain. Dan ini satu prinsip yang sangat penting. Kita mesti koreksi banyak hal, koreksi alasan kita kerja, alasan kita menikah, alasan kita berusaha, alasan kita studi, alasan kita jalani hidup, seluruhnya mesti dirombak sesuai kebenaran Alkitab. Saya tidak katakan hal-hal yang terlalu jauh atau terlalu besar atau terlalu tinggi tuntutannya, sehingga seolah-olah yang di sini terlalu berat untuk dijalani, bukan. Yang saya nyatakan adalah jalan untuk Saudara mempunyai kehidupan yang penuh damai di dalam Tuhan, jalan yang melepas bukannya mengambil. Karena Tuhan sendiri mengatakan siapa yang melepas justru mendapat, siapa pertahankan justru akan kehilangan. Engkau rela lepaskan nyawamu, engkau peroleh nyawamu. Engkau terus mati-matian pertahankan nyawamu, engkau akan kehilangan. Dan Kristus sekali lagi menjadi contoh.

 

Maka pertanyaan ini mesti dijawab, mengapa saya mesti studi, mengapa saya mesti kerja, mengapa saya mesti perbesar usaha saya, mengapa saya mesti menjalankan hidup di tengah-tengah masyarakat dan keluarga, mengapa saya mesti jalani hidup hari demi hari dengan cara yang saya jalani sekarang? Jawabannya hanya satu, demi kemuliaan Tuhan dan demi jadi berkat bagi orang lain. Setiap ambisi yang berpusat pada diri tidak akan pernah membawa bahagia. Maka Tuhan beri peringatan untuk kita semua, berhenti kerjakan apa pun untuk diri, jangan kerjakan apa pun untuk ambisi diri.

Maka saya mau belajar menyerahkan apa pun untuk pelayanan hanya untuk Dia. Mari kita sama-sama berdoa “Tuhan, kalau saya kerja, saya kerja ini untuk orang lain dan untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk diri. Kalau saya mau membina keluarga, keluarga saya ini untuk jadi berkat bagi orang lain, kemuliaan Tuhan bukan untuk diri. Kalau saya mau sekolah, saya sekolah untuk mempersiapkan diri menjadi berkat bagi orang lain dan untuk kemuliaan nama Tuhan. Kalau saya membangun usaha, saya dedikasikan usaha ini untuk membangun orang dan untuk kemuliaan nama Tuhan”. Dan dari situ Saudara tidak akan pernah dikecewakan oleh Tuhan.

Orang Kristen harus berhenti bertindak egois, orang Kristen harus berhenti mengajarkan ajaran-ajaran egois, dan sekali lagi orang Kristen mesti berhenti senang ajaran-ajaran egois. Alkitab terus menyatakan mulutmu adalah kuburan, tenggorokanmu adalah dunia orang mati, yang kamu katakan itu dosa semata-mata. Itu yang Alkitab bilang tentang kita”. Tapi Tuhan mengatakan “meskipun mulutmu kuburan, Aku mati bagimu. Dan setelah Aku mati bagimu, berhenti menjadi mulut yang seperti kuburan”.

Kita tidak ada spesialnya, kita menjadi spesial karena Tuhan mencintai kita. Itu sebabnya biarlah kita membiasakan diri dengar khotbah yang berpusat pada Tuhan bukan pada diri. Dan waktu kita terbiasa untuk mendengarkan khotbah yang berpusat kepada Tuhan, Saudara mesti melatih diri untuk mempunyai hidup yang berpusat kepada Tuhan. Apa yang saya kerjakan biarlah itu dihabiskan untuk sesamaku dan untuk kemuliaan nama Tuhan. Mengapa kita rela mengerjakan itu? Karena Sang Gembalaku, Gembala yang baik 2000 tahun yang lalu sudah mati di kayu salib, sudah teteskan darahNya supaya aku boleh beroleh hidup yang kekal”.

Saudara mungkin mengatakan “kalau saya kerja mengapa harus memikirkan orang lain? Ini pekerjaanku, ini usahaku, ini hasil keringatku”, tapi Saudara harus ingat darah itu adalah darah Yesus, tubuhNya adalah tubuh Yesus, kemuliaanNya adalah kemuliaan Kristus. Tapi Dia yang memiliki kemuliaan, memiliki darah dalam tubuhNya, Dia berikan itu untuk kita.

 

Maka kita mempunyai pengertian setelah saya terima dari Tuhan, saya juga mau mempersembahkan hidup saya kembali untuk Tuhan saja dan kembali untuk Tuhan. Tidak mungkin kita bisa pertanggung-jawabkan kecuali orang lain menikmati atau mendapatkan berkat dari apa yang kita kerjakan. Kiranya darah Kristus, pengorbananNya dan kerelaanNya untuk mati bagi kita, membuat kita juga rela berkorban, rela menyerahkan hidup bahkan mati bagi orang-orang yang memerlukan Tuhan. Biarlah kita menjadi pengikut-pengikut Kristus yang setia. Dan janji Tuhan tetap nyata, siapa mengikuti Kristus, dia sedang mengikuti damai sejahtera.

 


Posting Komentar untuk "Kristus yang mengasihi saya sekarang mengorbankan nyawa-Nya"