Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Ringkasan kitab Daniel

 


Teologi Kitab Daniel

Pembahasan tentang teologi kitab Daniel harus memperhatikan tujuan utama penulisan, yang sangat berkaitan dengan kedaulatan Allah. Pertama, kesombongan dan hukuman Allah.  Kitab Daniel berkali-kali menyinggung tentang raja-raja yang sombong. Nebukadnezar menyombongkan negara Babel yang ia dirikan (4:30).  Belsyazar memegahkan dewa-dewanya ketika ia menyuruh para pegawai untuk mengambil cawan-cawan rampasan dari bait Allah dalam pesta yang ia adakan (5:2-4). Arogansi juga ditunjukkan dalam tindakan 4 binatang (pasal 7), tanduk kecil (pasal 8), raja-raja yang akan datang (9:26-27; 11:36).

 

Hukuman TUHAN atas orang-orang sombong diajarkan secara konsisten dalam Kitab Daniel. Nebukadnezar sebagai raja ke-1 Babel direndahkan menjadi seekor binatang, sedangkan Belsyazar sebagai raja terakhir dikalahkan oleh Media-Persia. Tanduk kecil yang sombong (7:8) akan dibinasakan (7:26-27). Raja dari Selatan yang memegahkan diri atas semua allah juga akan dibunuh (11:45). Kedua, menanti janji TUHAN. Kitab Daniel memuat pesan eskhatologis yang sangat menghibur bangsa Yehuda yang sedang berada di pembuangan. Ide tentang kerajaan yang kekal muncul berkali-kali dalam kitab ini (2:44; 4:3; 6:26; 7:14). Bagaimanapun, janji ini masih membutuhkan waktu yang panjang untuk digenapi (2:37-44; 9:24-25).

 

Selama menanti penggenapan janji tersebut, bangsa Yehuda akan tetap berada di bawah penjajahan bangsa kafir. Bagaimana sikap yang benar dalam menanti janji ini? Kitab Daniel memberikan beragam contoh yang indah: (1) orang percaya harus menjaga diri dari semua pengaruh kekafiran (1:1-21); (2) orang percaya harus tetap menaati TUHAN, sekalipun resiko untuk melakukan itu sangat besar (3:16-18; 6:10-17); (3) orang percaya harus tabah menghadapi semua penderitaan, karena hal itu merupakan cara TUHAN memurnikan mereka (12:2, 10-13; 9:24).

 

Ketiga, pertentangan antara dua kerajaan.  Kata “kerajaan” muncul sebanyak 41 dalam kitab ini, sedangkan kata “raja” sebanyak 204 kali. Pertentangan antara kerajaan dunia dan kerajaan Allah sendiri dengan mudah dapat ditemukan di hampir seluruh bagian kitab Daniel. Walaupun bangsa Yehuda berada di bawah kekuasaan bangsa kafir, tetapi intervensi Allah yang berdaulat tetap terlihat dengan jelas. Allah membuat pemimpin pegawai istana menyayangi Dan.  (1:9). Allah semesta langit (2:18, 19, 37, 44) berkuasa memecat dan mengangkat raja (2:21, 37; 5:21-23). Kerajaan Allah akan mengalahkan semua kerajaan manusia (2:44). Allah berkuasa atas segala raja (2:47) dan kerajaan (4:17). Dia disebut sebagai Yang Mahatinggi sebanyak 12 kali (4:17, 24, 25, 32, 34; 5:18, 21; 7:18, 22, 25, 27). Raja-raja kafir yang sedang berkuasa dipaksa mengakui kekuasaan TUHAN (2:47; 3:28-29; 4:1-3, 34-35, 37).

 

Pada akhir zaman Anak Manusia dan semua orang kudus akan memegang tampuk pemerintahan dalam kemuliaan yang kekal (7:13-14, 18, 22). Keempat, kesetiaan TUHAN atas perjanjian. Doa Daniel di pasal 9 mengungkapkan keyakinan Daniel terhadap kesetiaan TUHAN. Semua hukuman yang dijalani bangsa Yehuda merupakan bukti kesetiaan TUHAN terhadap perjanjian, sekalipun untuk itu Allah terpaksa mengusir mereka dari tanah perjanjian (9:4, 14). Permohonan kepada Allah untuk merestorasi umat-Nya didasarkan pada kemurahan dan pribadi Allah sendiri yang setia (9:17-19), bukan kesalehan maupun kualitas penderitaan umat Allah.

Pemulihan Kedaulatan Universal Allah

Karena hubungan Allah dengan manusia sejak awal dijelaskan melalui metafora perjanjian, maka tidak mengherankan jika Daniel pasti mengerti malapetaka bangsanya, Israel, adalah akibat dari pelanggaran perjanjian, dan harapan apa pun mengenai pemulihan merupakan anugerah Allah untuk membarui perjanjian. Pernyataan Daniel mengenai pemberlakuan kembali kedaulatan Tuhan atas Israel tentu dapat dipakai untuk kekuasaan tertinggi Allah atas semua ciptaan. Bagaimanapun yang dipertaruhkan adalah pertobatan dan kepercayaan kepada Allah untuk mengingat janji-janji perjanjian-Nya dengan membangkitkannya melalui demonstrasi besar kekuasaan-Nya sebagai raja.

 

Daniel menyoroti pembaruan perjanjian sebagai dasar pemulihan secara nasional dan jika diperluas, adalah secara universal. Melalui doanya yang luar biasa dalam Daniel 9:4-19, dia menyapa Tuhan sebagai Allah perjanjian (Dan. 9:4) yang prisipnya dilanggar oleh umat-Nya (Dan. 9:5-6). Keadaan mereka yang tercerai berai di antara bangsa-bangsa membuktikan kebenaran bahwa mereka tidak setia (Dan. 9:7-12). Walaupun nasib mereka demikian menyedihkan namun mereka tidak mau bertobat (Dan. 9:13), pertanda mereka pantas menerima malapetaka itu (Dan. 9:14). Dengan mengingat peristiwa penyelamatan hebat pada peristiwa Keluaran (Dan. 9:15), Daniel berdoa agar Tuhan akan mengingat janji-Nya kepada umat pilihan-Nya, dan dia memohon demi nama-Nya untuk mengampuni serta memulihkan mereka kepada tempat berkat atau anugerah perjanjian (Dan. 9:16-19).

 

Agar pemulihan ini tercapai secara nasional atau universal, maka anasir anti-theokratis dunia yang menentang kedaulatan Tuhan harus dikalahkan dan dibinasakan. Misalnya yang sudah dikemukakan, mereka ini adalah para raja dan kerajaan-kerajaan fasik, yang ada pada akhirnya ditunjukkan contohnya sebagai musuh besar kerajaan Tuhan, yaitu Antikristus. Dia adalah tanduk yang merendahkan tiga tanduk lain (Dan. 7:24), yang menghujat Yang Mahatinggi, dan yang akan menganiaya umat Allah selama tiga setengah tahun (Dan. 7:25). Tetapi, kemenangan-nya tidak akan berlangsung lama, sebab dia akan digulingkan dan akan dimusnahkan (Dan. 7:26; bdg. Why. 17: 14; 19: 20).

 

Gambaran serupa muncul dalam Daniel 8, di mana sang nabi berbicara tentang Antiokhus Epifanes sebagai lambang untuk Antikristus, dia menggambarkan anasir ini sebagai tanduk kecil (Dan. 8:9) yang menjadi besar dan dengan kebencian terhadap Bait Suci serta kekudusannya menjadikan tempat kudus itu reruntuhan selama lebih dari enam tahun (Dan. 8:13-14). Tetapi, dia tidak akan menang, dan misalnya pasangannya di akhir zaman, sang Antikristus, dia akan dihancurkan oleh tangan Tuhan sendiri (Dan. 8:14, 23-25).

 

Tokoh Antikristus dan tujuannya diceritakan sangat rinci dalam (Dan. 11:36-45). Sang nabi mengatakan bahwa Antikristus, yang digambarkan di sini sebagai seorang raja (Dan. 11:36) akan meninggikan dirinya sebagai allah, lalu memaksakan rencana-rencana jahatnya pada semua ciptaan Allah (Dan.11:37-39). Tetapi, pemerintahannya berjalan bukan tanpa perlawanan, bahkan dari raja-raja di bumi (Dan. 11:40-43). Tetapi, walaupun dia akan menundukkan mereka satu demi satu, dia akhirnya akan dimintai pertanggung-jawaban di negeri kudus itu.

 

Setelah berkuasa untuk sementara waktu di sana, “ia akan menemui ajalnya dan tidak ada seorang pun yang menolongnya” (Dan. 11:45; Why. 19:19-21). Wakil Allah yang melaksanakan tindakan- tindakan penaklukan dan pemulihan hebat ini adalah “Anak Manusia,” tokoh Mesias yang muncul beberapa kali dalam nubuat Daniel. Barangkali kelihatan dalam Daniel 10:16-21 (“dia yang rupanya misalnya manusia itu”), dia jelas adalah tokoh dalam Daniel 2:13-14 (“seorang anak manusia”) yang datang dengan awan-awan dari langit, suatu gambaran tentang Mesias, Yesus Kristus, yang dipakai di tempat lain (Why. 1:7). Daniel melihat Dia ketika Ia dengan berani mendekati Yang Lanjut Usianya (yaitu, Allah Bapa). Dari tangan-Nya Mesias akan menerima kerajaan kekal (Dan. 19:15-16; 20:4-6). Kerajaan yang ada dalam sejarah dunia ini dan kerajaan Antikristus pada akhir zaman ini akan membuka jalan bagi Kerajaan Allah yang mulia yang datang sesudahnya dan yang diperintah oleh Anak Manusia dan orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.

 

Rujukan kepada “Orang-orang kudus, umat yang Mahatinggi” (Dan. 7:27) bersifat komprehensif dan universal, maka itu mengandaikan kebanggaan-Nya, sebab hanya melalui pembaruan hidup maka umat Allah segala zaman dapat mengambil bagian dalam hak-hak mulia ikut memerintah kerajaan itu, sesuai maksud penciptaan mereka. Kemungkinan ini diucapkan dalam teks (Dan. 12:1-3), di mana abdi Allah itu menyatakan bahwa banyak orang yang tidur dalam debu tanah akan bangun, ada yang mengalami kehidupan kekal. Umat Allah, orang-orang yang namanya “tertulis dalam kitab itu” (ay.1) akan hidup kembali untuk ikut memerintah, sebagaimana hakikat dari mandat yang diterima manusia sejak permulaan (Kej. 1:26-28; Why. 20:6; 22:5).

 

Tema-tema teologis penting kitab Daniel, bahwa kekuasaan manusia yang congkak dan menolak Allah akan diruntuhkan sehingga Allah akan berkuasa digenapi secara mutlak melalui kerajaan kekal orang-orang kudus-Nya, kendatipun semua bukti kelihatan berlawanan, tetapi akhirnya akan mengalami kemenangan. Sesudah melalui kilas waktu Yang Lanjut Usianya (Dan. 7:9-12), orang-orang kudus “akan menerima pemerintahan, dan mereka akan memegang pemerintahan itu sampai kekal” (ay.18). Segala kekuasaan dari semua kerajaan akan diserahkan kepada mereka, dan pada akhirnya mereka akan mencapai maksud- maksud-Nya bagi mereka: agar mereka dimahkotai “kemuliaan dan hormat,” di mana semua ciptaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka (ay. 27; Maz. 8:5-6).

 


Posting Komentar untuk "Ringkasan kitab Daniel"