Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Renungan Refleksi Paskah 2022 April

 



Arti hari Paskah bagi umat Kristiani

1. Perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir

Dalam Perjanjian Lama, Paskah merupakan perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Pada masa itu terdapat upacara ‘roti tidak beragi', dan ‘persembahan anak sulung', dengan upacara korban domba Paskah. Sesuai dengan kitab suci (Kel 12:14,17,21), rangkaian upacara ini merupakan perintah Tuhan agar dikenang oleh Musa dan bani Israel.

2. Perayaan Paskah pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang

Pada masa lalu, umat Allah merayakan Paskah dalam berbagai lambang. Seperti yang dikatakan dalam kitab suci (Kolose 2:17, Ibrani 10:1) hari raya pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang, yang wujudnya adalah Yesus Kristus.

Arti Paskah dalam Perjanjian baru menunjukkan kasih, anugerah, dan kuasa Allah yang luar biasa. Allah meluputkan umat milik-Nya dari kutuk dan maut, membebaskan orang percaya dari perbudakan dosa serta memberikan kepastian kebangkitan kekal di akhir zaman, melalui kebangkitan Kristus.

Arti paskah dalam Perjanjian Baru adalah sebagai berikut.

Paskah dalam Perjanjian Baru bermakna kebangkitan Kristus. Kristus telah dikurbankan sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dan memberikan keselamatan bagi dunia.

 

Paskah merupakan salah satu peristiwa iman umat Kristiani. Paskah menekankan pada cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Allah yang berkenan mengorbankan diri untuk menebus manusia dari dosa, bangkit dari kematian dalam kemuliaan.

Kebangkitan Kristus adalah KEUNIKAN kekristenan dibandingkan dengan agama lainnya. Kristus telah bangkit tidak mati lagi. Kristus telah menang! Oleh karena itu perjuangan umat Tuhan bukanlah perjuangan untuk meraih kemenangan; tetapi perjuangan dari kemenangan atas segala dosa dan Setan yang sudah diperoleh oleh Yesus ketika Ia berada di atas salib dan melalui kebangkitan-Nya (lih. Yohanes 12:31; Kolose 2:15; Wahyu 12:11).

Kemenangan atas persoalan serta tantangan

Semua umat Tuhan mengamini bahwa Allah adalah Maha Kuasa. seringkali kemaha-kuasaan-Nya diartikan sebagai Allah yang mampu mengubah semua situasi-kondisi yang sulit dalam hidup kita. Kita lupa, bahwa Allah yang Maha Kuasa juga mampu mengubah sikap hati kita terhadap kesulitan yang sedang dihadapi.

Pada waktu Yesus berada di Taman Getsemani, Ia minta jikalau boleh, cawan kepahitan itu dilalukan daripada-Nya. Tetapi Bapa- Nya di Sorga tetap menghendaki Yesus meminum cawan itu. Bapa mengirim seorang malaikat untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Lukas 22:43). Salib itu tetap harus dipikul, namun sikap hati manusia Yesus telah diubah dan dikuatkan. Hasil-nya, Yesus dapat tegak berdiri untuk menghadapi salib dengan sikap hati yang tangguh (bandingkan Yohanes 18:4-8).

Kemenangan atas rasa takut

Dosa telah memutar-balikkan banyak hal: yang manusia harus takuti, malah jadi berani sekali; yang manusia harus berani, malah jadi sangat takut. Seharusnya, manusia takut kepada Allah dan berani kepada Setan; manusia harus berani mengatakan kebenaran dan takut untuk berkata dusta. Namun, orang berdosa bersikap sangat berani menentang Allah dan takut kepada Setan. Dosa telah membuat banyak orang takut berkata benar dan berani berdusta.

Rasa takut yang keliru seringkali dipakai Iblis untuk melumpuhkan dinamika hidup kristiani. Banyak orang Kristen tidak berani bersaksi karena mereka sudah kalah sebelum bertanding. Mereka takut kalau-kalau orang lain tersinggung atau marah. Iblis sering memakai "psychology of fear" (psikologi rasa takut) untuk memadamkan semangat pelayanan di dalam diri umat-Nya. Seorang petinju pasti akan kalah apabila ia pada waktu dipertemukan dengan lawannya dan di hadapan wasit tidak berani menatap mata lawannya.

"Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1Korintus 15:17)

Benarlah ayat itu. Jikalau Yesus telah dibangkitkan, maka percumalah manusia yang berusaha untuk hidup benar, sebab Yesus Sang Kebenaran ternyata mengakhiri hidup-Nya di atas salib. Ia diperlakukan secara tidak adil oleh manusia yang berdosa. Jikalau Yesus tidak dibangkitkan, maka kebenaran dikalahkan oleh dusta. Tetapi puji Tuhan, Yesus bangkit! Berarti: ada pengharapan bagi manusia yang ingin hidup benar dan mau memuliakan nama Tuhan.

Hendaklah hidup setiap umat Tuhan juga demikian. Masalah panjang umur bukanlah hal yang terpenting, tetapi bagaimana seseorang menggunakan setiap waktu dalam hidupnya, apakah dengan hal-hal yang berkenan di hadapan Tuhan, ataukah hanya memuaskan hawa nafsu dan ambisi pribadi? Mutu hidup lebih dipentingkan di dalam kekristenan.

Jadi, janganlah takut terhadap segala tantangan dan aniaya. Takutlah jikalau Tuhan tidak diberikan tempat yang semesti-nya di Gereja-Nya.

Seperti yang tertulis di dalam Wahyu 3:20, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."

Ayat ini bukan ditujukan kepada orang- orang non-Kristen, tetapi kepada gereja Tuhan di Laodikia yang sudah suam-suam (Wahyu 3:16). Tuhan Yesus yang seharusnya menjadi Kepala Gereja, tetapi Ia dibiarkan berada di luar pintu gereja.

 Memandang kepada Cinta Romantika Ilahi

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!". (Matius 27:29).

 

Yesus Kristus dimahkotai duri di kepala-Nya, para prajurit dan serdadu itu menekan duri-duri itu di kepala Yesus sehingga banyak darah menetes, keluar.

Darah yang menetes itu untuk menghapus dosa pikiran di kepala kita, dosa di otak kita yang selalu berpikiran jahat, cabul, pikiran negatif.  Mahkota duri yang melingkar di kepala Yesus, untuk menggantikan kepala kita yang najis, porno, jahat.

Seharusnya mahkota duri itu melingkar di kepala kita, menusuk bagian dalam otak-otak kita yang keji.

Otak-otak kita yang penuh kebejatan. Kepala kita yang tidak memikirkan Allah. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (Yoh. 1:10-11 ITB).

Bukti CINTA Tuhan Yesus untuk manusia adalah memberikan nyawa-Nya, hidup-Nya untuk manusia yang berdosa. Mati di kayu salib, darah-Nya bercucuran di bukit Kalvari adalah bukti KASIH terbesar, CINTA PUNCAK yang Yesus DEMONSTRASIKAN, EKSPRESIKAN, DAN UNGKAPKAN untuk manusia berdosa. Supaya kita yang mati hidup kembali, kematian Yesus yang MENGHIDUPKANkita orang berdosa.

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Phil. 2:6-8 ITB).

DIA SANG HAKIM rela melepaskan jubah kehakiman-Nya demi kita.

DIA YANG ADALAH KEBENARAN rela menjadi dosa karena kita.

Sehingga kebenaran kita yang PALSU DIGANTIKAN

DENGAN KEBENARAN SEJATI-NYA.

Saya dan teman2 diterima KARENA YESUS SANG RAJA DITOLAK.

Saya dan teman2 DISEMBUHKAN KARENA YESUS SANG RAJA SENGSARA DAN SAKIT UNTUK MENGGANTIKAN KITA.

Saya dan teman2 DIBEBASKAN KARENA YESUS SANG RAJA MENJALANI HUKUMAN MENGGANTIKAN KITA.

Saya dan teman2  PUNYA HIDUP KARENA YESUS YANG MATI buat kita.

Salib KRISTUS yang merupakan lambang kutukan diubah oleh TUHAN menjadi LAMBANG KESELAMATAN DAN PENGHARAPAN.

INILAH INJIL.

DAN INJIL MENGUBAH MAKNA SALIB DARI KUTUK MENJADI PENGHARAPAN.

DARI MAUT MENJADI KESELAMATAN.

DARI KEMATIAN MENJADI KEHIDUPAN.

 

Posting Komentar untuk "Renungan Refleksi Paskah 2022 April"