Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Panggilan Musa Keluaran 3

 



Panggilan Musa


Dalam Kejadian pasal 15, Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan pergi ke sebuah negeri asing dan akan ditindas. Negeri asing yang dimaksud adalah Mesir. Bangsa Israel dibawa oleh Yusuf di Mesir. Bangsa Israel bertambah banyak sehingga Firaun ketakutan. Firaun kemudian menindas bangsa Israel. Firaun merupakan representasi iblis yang menghambat rencana Tuhan bagi umat-Nya.

 

Tuhan sebenarnya tetap memelihara bangsa Israel meskipun dalam penindasan. Bangsa Israel terus bertambah jumlahnya, sehingga menjadi bangsa yang besar. Kesulitan yang sedang dihadapi bangsa Israel di Mesir pun merupakan latihan untuk bertahan hidup di padang gurun.

 

Setelah beberapa lamanya Israel ditindas, tiba saatnya bagi Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel. Israel dipanggil nantinya untuk menyembah Tuhan di Gunung Sinai. Hal ini juga berarti Tuhan membebaskan kita dari dosa untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.

 

Panggilan Musa terdapat dalam Keluaran pasal 3 dan 4. Sebelumnya, Musa adalah seorang pangeran kerajaan Mesir. Dia diangkat sebagai anak oleh seorang putri Mesir. Di Mesir, Musa mendapat pendidikan yang baik. Bahkan dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Musa pernah menjadi panglima perang Mesir.

 

Musa memiliki sense of justice yang tinggi dalam hatinya. Dia ingin menjunjung keadilan dan membela orang yang tertindas, terutama bagi saudara sebangsanya. Suatu hari Musa melihat seorang Mesir memukul orang Israel. Musa marah dan memukul orang Mesir tersebut hingga tewas. Namun saat suatu hari Musa hendak melerai pertengkaran antara dua orang Israel, mereka menolak Musa sebagai hakim bagi mereka.

 

Musa kemudian kabur dari Mesir pergi ke padang gurun dan menjadi seorang gembala. Kemungkinan besar Musa mengalami depresi pada masa ini. Musa menikah, memiliki anak dan menamainya “Gersom” yang berarti pengembara. Ia mungkin sedang merasa tersesat. Heroisme yang dia punyai dulu sudah luruh seiring berjalannya waktu.

 

Suatu hari Tuhan memanggil Musa di padang gurun. Ia memanggil Musa pada saat “titik terendah” Musa. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat dari sudut pandang manusia. Namun seringkali memang waktu yang tepat bagi Tuhan, bukan waktu yang tepat bagi manusia. Tuhan memanggil Musa bukan ketika dia menjadi pangeran atau panglima perang, namun ketika Musa “tersesat”. Tuhan bukan memanggil Musa di usianya yang masih muda dan kuat, namun di usianya 80 tahun.

 

Musa memberikan 5 respons ketika dia dipanggil oleh Tuhan:

 

  1. Musa mengatakan, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Keluaran 3:11). Kalimat ini adalah ekspresi Musa yang merasa tidak layak. Dia merasa bahwa dia hanyalah seorang gembala, seorang pengembara yang tersesat, sehingga tidak akan mampu untuk menghadapi Firaun. Allah kemudian menjawab Musa dengan mengalihkan fokus Musa, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Allah ingin menunjukkan bahwa yang dibutuhkan Musa adalah penyertaan Tuhan.

 

  1. Musa kembali bertanya kepada Tuhan; Tuhan mana yang mengutus dia untuk melawan Mesir (Keluaran 3:13). Tuhan kemudian menjawab bahwa AKU adalah AKU. Allah mengatakan ini untuk menunjukkan bahwa Pribadinya tidak bisa diikat oleh apapun.

 

  1. Musa kemudian bertanya kepada Allah bagaimana kalau bangsa Israel tidak percaya kepada Musa (Keluaran 4:1). Allah menjawab dengan mengungkapkan isi hati Musa. Musa sendiri yang sebenarnya ketakutan ditolak bangsanya. Ia teringat bahwa di masa lalu, orang Israel menolak Musa sebagai hakim atas mereka, yang berarti tidak percaya bahwa Musa dapat membebaskan mereka dari perbudakan Firaun.

 

  1. Musa mengatakan bahwa dia tidak fasih bicara (Keluaran 4:10). Ketika Musa mengatakan hal ini, sebenarnya Musa sedang diikat oleh ketakutannya sendiri. Benarkah Musa tidak fasih berbicara? Mungkin sebenarnya ia fasih. Namun Musa memberikan standar kefasihan tertentu pada dirinya untuk dapat Tuhan pakai membebaskan bangsa Israel. Padahal sesungguhnya perintah Tuhan jelas dan sederhana.

 

  1. Terakhir, Musa meminta Tuhan untuk mengutus orang lain (Keluaran 4:13). Dalam Alkitab Bahasa Inggris, Musa memulai perkataannya dengan kata “please”, terkesan begitu sopan. 

 

Namun sesungguhnya respon terakhir Musa ini kurang ajar, karena menyuruh Tuhan mengutus orang lain saja.

 

Pada akhirnya Tuhan berhasil membuat Musa mau mengikuti panggilan-Nya. Musa bisa melihat bahwa anugerah Tuhan jauh lebih besar daripada ketakutannya. Ia percaya bahwa Tuhan yang akan memampukan dan memelihara Musa dalam mengerjakan panggilannya. Kesabaran Tuhan dalam menghadapi Musa sampai Musa mau mengerjakan panggilan Tuhan tersebut menunjukkan prinsip irresistible grace atau anugerah Tuhan yang tak tertahankan.

Ketika Tuhan mengutus kita, marilah kita juga mau mengikuti panggilan Tuhan karena kita tahu bahwa Tuhan yang akan memampukan kita. Jangan mengikat diri kita dengan kualifikasi-kualifikasi tertentu yang sebenarnya Tuhan tidak minta. Berfokuslah mengerjakan tugas yang Tuhan perintahkan kepada kita. Ingatlah pula bahwa kita memang tidak mampu, namun penyertaan Tuhanlah yang akan memampukan kita.

Bagi sebagian orang, menemukan panggilan Tuhan dalam hidup merupakan hal yang paling menggelitik rasa keingintahuan kita. Ayo kita bersama-sama belajar mengenali panggilan Tuhan atau tujuan hidup kita di dunia.

Kita semua diciptakan Tuhan dengan tujuan. Tidak ada yang tidak. Tinggal bagaimana sebagai manusia mau mencari tahu dan mewujudkannya. Kadang banyak orang jadi rancu dengan kata “panggilan Tuhan” ini. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan pelayanan dan pekerjaan.

Sebenarnya kita bisa mendefinisikannya seperti: “panggilan Tuhan itu personal, undangan kepada masing-masing orang untuk melaksanakan tugas unik yang sudah Tuhan persiapkan”. Sepertinya mudah ya. Tapi bagaimana kita bisa mengetahui apa yang Tuhan mau dan cara melakukannya?


Posting Komentar untuk "Panggilan Musa Keluaran 3"