Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kekekalan yang menggentarkan dunia

 



Kekekalan yang menggentarkan dunia


Yakobus 4:5 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!"


Jika saja manusia itu hidup selama 70-80 tahun lantas mati dan kemudian manusia tidak ada kelanjutannya atau dengan kata lain manusia itu musnah, maka kehidupan di dunia ini adalah kehidupan manusia yang sesungguhnya. 

Tetapi karena ada kehidupan setelah kematian dan hal itu benar-benar akan terjadi dalam perjalanan hidup manusia, maka kita harus waspada bahwa kehidupan di dunia ini berarti adalah persiapan kita menuju kehidupan kita yang selanjutnya yaitu kekekalan. Kehidupan dalam kekekalan ini pada akhirnya menjadi kehidupan kita yang sesungguhnya yang harus kita jalani setelah kehidupan kita di dunia ini selesai. Maka benarlah yang dikatakan oleh Alkitab bahwa kita di dunia ini hanya menumpang (1 Petrus 1:17)


Di awal penciptaan sebenarnya manusia itu diharapkan oleh Tuhan untuk memiliki hidup selamannya tanpa mengalami kematian. Adam dan Hawa ketika berada di taman Eden memiliki persekutuan dengan Allah secara luar biasa dan memang Allah merancangkan manusia itu untuk memiliki kehidupan kekal bersama dengan Tuhan. Tetapi karena Adam dan Hawa lebih memilih untuk melanggar ketetapan Allah, maka bukan saja mereka kehilangan sebuah hubungan dengan Allah, tetapi manusia juga akan mengalami kematian. 

Dan kematian inilah yang membawa manusia terpisah dari Allah selamanya. Kematian ini adalah suatu keadaan dimana manusia masuk kedalam dimensi waktu yang ada batasnya di dunia ini. Kematian sebenarnya bukanlah yang mengerikan, yang mengerikan adalah ketika kita pada kehidupan kekal nanti, kita terpisah dari Allah selamanya. Setelah fisiknya mati,  manusia harus mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya selama di dunia ini kepada Tuhan baik ataupun jahat. Tetapi seberapapun kebaikan yang dilakukan oleh manusia sama sekali tidak akan membawa dirinya kepada kehidupan bersama-sama dengan Tuhan secara kekal. 

Karena kebaikan manusia bukanlah standart kebaikan yang diinginkan oleh Allah tetapi hanya kebaikan yang bersifat relatif, artinya sebuah kebaikan yang bisa berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Inilah yang membuat mengapa perbuatan baik itu tidak membuat orang diampuni dosanya karena dosa sudah dikandung dalam diri manusia sejak kejatuhan Adam, yang membuat dia sudah tidak mampu lagi melakukan kebaikan dengan standart Allah ini. Oleh karena dosa satu orang yaitu Adam, maka semua manusia juga menanggung akibat fatal itu. Tetapi karena Tuhan mengasihi manusia, maka Tuhan mengirimkan anakNya yang  Tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menebus manusia dari dosa. 

Kematian Yesus membuat hubungan yang rusak antara Allah dan manusia bisa diperbaiki kembali, dengan cara manusia menerima Yesus sebagai Tuhan artinya menjadikan Yesus sebagai satu-satunya penguasa dalam dirinya. Ketika Tuhan Yesus menebus manusia, tujuan Tuhan Yesus bukan hanya akan memindahkan manusia dari neraka ke sorga tetapi Tuhan Yesus mau mengembalikan kemuliaan Allah yang hilang dari diri manusia sehingga manusia yang bersedia memberikan dirinya menjadi milik Tuhan, akan mudah untuk memiliki standart kualitas hidup seperti yang diinginkan oleh Bapa , oleh karena itulah panggilan orang Kristen bukan hanya untuk percaya saja tetapi untuk menjadikan dirinya semakin hari diubahkan oleh Roh Kudus supaya semakin serupa dengan Kristus. Supaya kemuliaan Allah bisa dikembalikan lagi kepada seseorang yang mengikuti jejak Kristus atau memperagakan kehidupan Yesus Kristus secara riil. Tuhan Yesus rela menyerahkan nyawaNya supaya orang yang percaya bisa diselamatkan artinya keselamatan ini membawa manusia bisa dikembalikan lagi kepada Allah yaitu pada rancangan Allah yang semula. 


Oleh karena itulah ayat di atas yang tadi sudah kita baca menyatakan bahwa Allah menginginkan roh yang ada dalam hidup kita itu dengan cemburu. Bahasa asli yang dipakai dalam frasa menginginkan roh itu adalah ἐπιποθεῖ τὸ πνεῦμα (epipodei to pneuma) yang berarti kerinduan yang luar biasa agar roh kita bisa kembali kepada Tuhan dalam kerajaannya. 

Roh yang Tuhan tempatkan dalam diri kita adalah roh yang sebenarnya milik Tuhan. Tuhan adalah Bapa segala roh (Ibrani 12:9) artinya semua roh yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan. Ketika Allah menciptakan manusia pada hari yang ke 6, maka Allah menghembuskan sesuatu yang di sebut nafas hidup kedalam manusia (Kejadian 2:7). 

Nafas ini sebenarnya adalah roh yang membuat manusia itu hidup, jadi Allah sangat rindu sekali agar roh itu bisa kembali kepada Dia. Dikatakan Allah sampai menginginkannya dengan cemburu, itu artinya Tuhan sangat ingin agar milik Tuhan itu bisa kembali pada Tuhan lagi. Tetapi faktanya nanti, tidak semua roh bisa kembali pada Tuhan karena ada roh yang tidak mau mempercayai Tuhan, kalaupun mempercayai percayanya hanya sebatas akal dan pikiran bukan percaya yang disertai tindakan dalam hidup. 


Saudara kekekalan inilah yang seharusnya menjadikan kita gentar ketika kita hidup di dunia ini. Karena kekekalan itu memiliki 2 cabang tujuan yaitu di sorga kekal atau di neraka kekal. Setiap orang tidak ada satupun yang menginginkan masuk neraka, mereka tentunya menginginkan sorga ketika nanti mereka meninggalkan dunia ini. 

Tetapi untuk bisa masuk sorga seseorang dituntut untuk percaya kepada Tuhan Yesus karena kepercayaannya nanti akan membuat dia menyerahkan dirinya secara tidak terbatas kepada yang dia percayai yaitu Yesus. Oleh karena itu kepercayaan kita kepada Tuhan haruslah dikerjakan terus menerus karena proses untuk memiliki percaya secara penuh diperlukan pengalaman-pengalamam bersama dengan Tuhan. 

Orang yang menyadari adanya realitas kekekalan ini seharusnya sudah mulai mengumpulkan hartanya di sorga dan bukan di dunia ini. Karena hidup kita saat ini, amat menentukan seperti apa kita dalam kerajaan Allah nanti. Oleh karena itu percaya kita harus di wujudkan dalam hidup kita yang semakin serupa dengan Kristus supaya kita nanti di kenal Tuhan di dalam kerajaanNya. Tetapi jika kita abaikan hal ini, maka hal yang kekal yang lain yaitu neraka kekal akan dirasakan dan akan terbuang selama-lamanya dari kerajaan Allah. 


Jika memang kekekalan itu sangat ditentukan dari kehidupan kita saat ini, betapa salehnya kita harus hidup karena waktu hidup kita yang sementara saja di dunia ini, akan mendapatkan kemuliaan kekal yang durasi waktunya tidak terbatas. 

Orang yang pandai pastilah akan berusaha agar kehidupannya yang sementara ini, membuat dia tidak mencintai dunia dan keinginnannya lagi, tetapi dia akan sebanyak mungkin mengumpulkan hartanya di sorga. Tetapi bagi orang yang tidak pernah serius mengikut Tuhan apalagi tidak percaya sama sekali kepada Tuhan Yesus, kekekalan ini adalah sesuatu kabar buruk buat dirinya , karena lebih baik dia tidak dilahirkan daripada harus menghadapi adanya realitas kekekalan. 

Orang-orang yang memiliki pandangan baiklah kita makan dan minum sebab besok kita mati (1 Korintus 15:32) itu disebut orang yang mencintai dunia dan semua yang ada di bumi ini tanpa menginginkan dirinya untuk mengenakan cara hidup Yesus Kristus. 

Oleh karena itu selagi masih ada waktu, saya ajak agar kita semua mulai menjalani hidup yang lebih membangun roh kita daripada daging kita. Yaitu kita menggunakan semaksimal mungkin diri kita hanya untuk kemuliaan Allah. Sehingga nantinya roh yang bersifat kekal kita ini akan kembali pulang kepada Bapa sang pemilik roh kita. Tuhan memberkati. Amin

Posting Komentar untuk "Kekekalan yang menggentarkan dunia"