Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengapa ada RAS manusia yang berbeda-beda jika manusia pertama yang diciptakan Allah hanya satu

 


Mengapa ada RAS manusia yang berbeda-beda jika manusia pertama yang diciptakan Allah hanya satu

  1.  Pembelaan
  2.      Pembuktian
  3.      Penyerangan

 

1.      Pembelaan

Tuhan menciptakan Adam memang satu tetapi apakah mustahil bagi Tuhan untuk membuat manusia itu menjadi banyak Ras, contohnya warna kulit, gaya mata, bentuk hidung dll.? Tentu bisa karena Tuhan pencipta terlalu kreatif.

Kitab kejadian pasal 1:31 menjelaskan

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.( disini termasuk manusia)

26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

 

2.      Pembuktian

 

            Alkitab tidak secara tertulis menjelaskan kepada kita asal mula berbagai “ras” atau warna kulit manusia. Dalam kenyataannya, sebenarnya hanya ada satu ras, yaitu ras manusia.

            Dalam ras manusia ini ada perbedaan besar dalam warna kulit dan karakteristik fisik lainnya. Sebagian orang berspekulasi bahwa ketika Allah mengacaukan bahasa manusia di Menara Babel (Kejadian 11:1-9), Dia juga menetapkan keanekaragaman ras.

            Mungkin Allah mengadakan perubahan genetik pada umat manusia dalam rangka membantu manusia bertahan hidup dalam lingkungan ekologi yang berbeda-beda. Misalnya, orang-orang Afrika yang “diperlengkapi” secara genetik untuk bertahan hidup di panas yang tinggi di Afrika.

            Menurut pandangan ini, Allah mengacaukan bahasa sehingga manusia berkelompok berdasarkan bahasa. Kemudian, Allah menciptakan gen untuk ras yang berbeda berdasarkan di mana setiap ras itu akan berdiam secara geografis.

            Penjelasan yang paling memungkinkan itu bahwa Adam dan Hawa memiliki gen yang dapat menghasilkan keturunan dengan warna kulit hitam, coklat dan putih (dan campuran). Ini sama dengan orang yang kawin campur dari ras yang berbeda dapat memiliki anak-anak yang warna kulitnya berbeda satu dengan lainnya. Karena jelas bahwa Allah menghendaki manusia memiliki rupa yang berbeda-beda, masuk akal jika Allah memberi Adam dan Hawa kemampuan untuk menghasilkan anak-anak dengan warna kulit yang berbeda-beda. Di kemudian hari, satu-satunya yang selamat dari air bah adalah Nuh dan istrinya, ketiga putra nuh dan istri mereka, seluruhnya ada delapan orang (Kejadian 7:13).

            Mungkin istri Sem, Ham dan Yafet berasal dari ras yang berbeda-beda.
Mungkin saja istri Nuh berbeda ras dengan Nuh. Mungkin saja mereka berdelapan semua adalah dari ras campuran, yang berarti mereka memiliki gen untuk menghasilkan anak-anak dengan ras yang berbeda-beda.

            Apapun penjelasannya, aspek yang paling penting dari pertanyaan ini adalah kenyataan bahwa kita semua berasal dari ras yang sama, diciptakan oleh Allah yang sama, dan diciptakan untuk maksud yang sama.

            Perbedaan ras manusia serta perbedaan bahasa mereka memang semata-mata ciptaan Allah. Allah adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Dia tidak hanya sekedar menciptakan Adam  begitu saja dan selesai, lalu semua dikembalikan kepada hukum alam, seperti yang seringkali kita yakini.

Tidak demikian, tapi yang benar adalah Allah mencptakan Nabi Adam dengan segala keunikannya, lalu juga menciptakan terus manusia baru dengan segala keunikannya, termasuk keunikan ketika Allah menciptakan keberagaman ras dan bangsa manusia yang saling berbeda.

Jadi kalau pertanyaan Anda, kenapa manusia beragam jenis ras, padahal  Adam cuma satu, maka jawabannya bahwa Allah memang menciptakan ras manusia, tidak berhenti pada menciptakan Adam saja.

Walau pun awalnya Allah hanya menciptakan satu manusia, lalu menjadi dua, lalu menjadi banyak, tapi kemudian Allah 'tetap' mencipta. Dia tidak berhenti mencipta, Dia tidak hanya sekedar menciptakan alam semesta dalam waktu enam hari lalu setelah itu pada hari ketujuh, Dia berhenti dan kecapean. Maha Suci Allah dari segala sifat itu.

            Semua manusia termasuk diri Anda diciptakan dengan sangat unik, satu per satu punya keunikan, satu per satu punya keistimewaan, satu persatu punya kelebihan, satu per satu punya'miracle'-nya sendiri-sendiri. Manusia atau kita ini bukan sekedar sebuah produk massal, kita ini tidak seperti barang industri pabrik. Tapi kita ini ibarat industri kerajinan tangan, yang diciptakan satu per satu, dengan tingkat ketelitian yang amat tinggi dan keunikan yang spesifik.

            Demikian juga dengan bahasa, walau pun awalnya bahasa manusia cuma satu, yaitu bahasa ibrani, namun setelah itu Allah pun menciptakan beragam bahasa umat manusia.

            Maka adanya sekian jenis ras manusia dan ragam bahasa, jangan dikira muncul secara kebetulan. Semua itu muncul dengan alasan tersendiri, dengan segala kerumitannya, dan tentunya dengan 'sentuhan' langsung dari Allah .

            Allah menciptakan manusia satu persatu, mulai dari zygote, lalu janin hingga menjadi manusia. Ternyata masing-masing punya struktur DNA sendiri-sendiri yang unik dan spesifik.

            Bahkan sidik jari manusia dibuat berbeda satu dengan lainnya. Kalau para programer bilang, masing-masing punya 'id' tersendiri.

            Menurut Alkitab, semua manusia yang ada di bumi sekarang ini adalah keturunan dari Nuh dan istrinya, tiga anaknya bersama istri mereka, dan sebelum itu adalah dari Adam dan hawa. Jelaslah bahwa kita memiliki kelompok ras yang berbeda dengan ciri-ciri yang berbeda pula. Yang paling jelas untuk hal ini adalah warna kulit. Banyak orang melihatnya sebagai alasan untuk meragukan catatan sejarah dalam Alkitab. Mereka percaya bahwa macam-macam kelompok dapat timbul hanya oleh perkembangan secara terpisah selama lebih dari sepuluh ribu tahun.

            Seperti yang akan dilihat nanti, tidaklah demikian. Pemahaman modern tentang bagaimana warna kulit semacam ini diturunkan menunjukkan bahwa hanya memerlukan beberapa generasi saja setelah kejadian Babel seperti yang tertulis dalam Alkitab untuk menghasilkan bermacam-macam kelompok yang berbeda pula. Dan ada bukti yang bagus untuk menunjukkannya, memang, beragamnya orang yang ada sekarang ini tidak terpisah selama kurun waktu yang besar.

 

            Alkitab membedakan orang dengan cara kesukuan atau kelompok bangsa, bukan dengan warna kulit atau penampilan fisik. Meskipun demikian jelaslah, ada kelompok orang yang memiliki ciri tertentu secara umum (misalnya warna kulit), yang membuat mereka berbeda dari kelompok lainnya. Untuk mudahnya, kita mengatakan kelompok-kelompok ini sebagai RAS, karena RAS manusia adalah bagian dari satu SPESIES – HOMO SAPIENS (orang pandai). Tentunya, hal ini mengatakan kepada kita bahwa semua ras/ bangsa dapat dengan bebas berkembang biak dan menghasilkan keturunan; jika tidak, mereka dapat saja dikelompokkan sebagai spesies yang terpisah. Ini menunjukkan bahwa perbedaan biologis antar bangsa tidak terlalu besar.

Para ahli antropologi umumnya mengklasifikasikan orang ke dalam sekelompok kecil ras utama :
- Kaukasoid
- Mongoloid (yang termasuk di dalamnya antara lain orang Amerika, Indian)
- Dan Austaroid (orang Australia Aborogin)

Masing-masing klasifikasi tersebut masih memiliki banya sub-kelompok yang berbeda lagi.

            Sebenarnya, para penganut evolusi setuju bahwa bermacam-macam ras manusia tidak lepas dari asal-usulnya, yaitu mereka tidak berkembang dari kelompok binatang yang berbeda, misalnya. Jadi, mereka setuju dengan penciptaan menurut Alkitab bahwa semua ras berasal dari populasi asli yang sama. Tentu saja, mereka percaya bahwa kelompok seperti Aborigin dan China mengalami pemisahan selama puluhan ribu tahun, dan pada umumnya orang percaya bahwa ada perbedaan yang sangat besar terjadi di antara bangsa yaitu harus terjadi selama bertahun-tahun supaya perbedaan ini berkembang.

 

Kita dapat merekonstruksi sejarah bangsa-bangsa yang sebenamya, menggunakan:

• Latar belakang informasi yang telah diberikan sebelumnya.
• Informasi yang diberikan oleh Sang Pencipta sendiri dalam Kitab Kejadian.
• Beberapa pertimbangan dari pengaruh lingkungan.


            Manusia pertama yang diciptakan, Adam, yang dari padanya semua manusia diturunkan, diciptakan dengan kemungkinan kombinasi gen yang paling baik - untuk wama kulit, misalnya. Masa setelah penciptaan, air bah yang melanda dunia menghancurkan semua manusia kecuali manusia yang bernama Nuh, istrinya, tiga anak laki-lakinya dan masing-masing istri mereka. Air bah ini secara besar-besaran mengubah lingkungan. Setelah itu Allah memerintahkan yang masih hidup ini untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Beberapa ratus tahun kemudian, manusia memilih untuk tidak menaati Allah dan bersatu membangun kota besar dengan Menara Babel sebagai simbol penyembahan yang melawan Allah. Dari (Kejadian pasal 11 kita mengerti bahwa sampai pada waktu itu hanya ada satu bahasa, dan Allah menghukum ketidaktaatan manusia itu dengan mengacaukan mereka melalui bahasa yang berbeda-beda, sehingga mereka tidak dapat bekerja sama melawan Allah, dan mereka dipaksa untuk berpencar ke seluruh muka bumi seperti yang Allah kehendaki dari semula. Jadi semua ras - orang Negro, orang Eropa, orang Australia Aborigin, dan yang lainnya - sudah ada sejak saat itu.)

 

Zaman nuh


            Nuh dan keluarganya mungkin saja berkulit setengah coklat, dengan gen untuk kulit terang dan gelap, karena wama kulit yang medium (cukup gelap untuk melindungi terhadap kanker kulit, namun cukup terang untuk memproduksi vitamin D) adalah yang paling cocok pada dunia sebelum Banjir. (Tidak mungkin ada iklim ekstrem yang keras). Karena semua faktor untuk wama kulit ada pada diri Adam dan Hawa, hampir dapat dipastikan bahwa mereka juga setengah coklat. Kenytaannya, pada umum-nya populasi di dunia saat ini berwama setengah coklat.

            Setelah Banjir, selama beberapa abad sampai Babel, hanya ada satu bahasa dan satu kelompok budaya. Dengan demikian tidak ada rintangan untuk menikah dalam kelompok ini. Ini cenderung menjauhkan perbedaan wama kulit yang besar pad a populasi tersebut. Tentu saja kulit yang sangat terang dan sangat gelap akan muncul, tetapi orang cenderung memilih untuk menikah secara bebas dengan orang yang kurang gelap atau kurang terang dari diri mereka, memastikan bahwa rata-rata warna secara kasar adalah saaa. Hal yang sama adalah karakter lain yang sebenamya, bukan warna kulit saja. Dalam keadaan yang seperti ini, perbedaan ras tidak akan pemah muneul. Hal ini memang benar bagi hewan maupun populasi manusia, seperti yang diketahui oleh para ahli biologi. Untuk mendapatkan garis yang terpisah, Anda perlu memisahkan keturunan dari kelompok besar ini menjadi kelompok-kelompok yang lebih keeil dan memisahkan mereka, tidak berkembang biak lagi.

 

Akibat menara babel

            Inilah yang sebenarnya terjadi di Babel. Sekali bahasa yang berbeda diberikan, seketika itu juga ada penghalang. Bukan saja orang cenderung untuk tidak menikah dengan orang yang tidak mereka mengerti, tetapi seluruh kelompok yang berbicara dengan bahasa yang sama tadi mendapat kesulitan untuk berhubungan dan mempercayai mereka yang tidak berbahasa sama. Mereka cenderung untuk pindah dan dipaksa berpisah satu dengan yang lain ke dalam lingkungan yang berbeda. Ini, tentu saja, merupakan apa yang dikehendaki oleh Allah. Tidak mungkin kalau masing-masing kelompok kecil membawa warna kulit yang sama seperti asalnya, kelompok yang lebih besar dulu. Jadi satu kelompok mungkin mempunyai gen yang rata-rata lebih gelap, sementara yang Jain memiliki gen yang lebih terang. Hal yang sama terjadi pada karakteristik yang lain: bentuk hidung, bentuk mata, dan lain-lain. Dan karena mereka berkembangbiak hanya dengan kelompok bahasa mereka sendiri, kecenderungan ini tidak lagi dipukul rata seperti sebelumnya.

            Ketika kelompok ini pindah dari Babel, mereka menghadapi zona iklim yang baru dan berbeda. Ini juga berpengaruh pada keseimbangan faktor keturunan dalam populasi tersebut, meskipun pengaruh lingkungan tidak sepenting seperti percampuran genetik di mana masing-masing kelompok itu berasal. Sebagai contoh, mari kita melihat orang yang pindah ke tempat yang dingin dengan sinar matahari sedikit. Di tempat itu anggota dari kelompok mana pun dengan kulit gelap tidak mampu menghasilkan vitamin D yang cukup, dan dengan demikian menjadi kurang sehat dan memiliki sedikit anak. Pada waktu itu, anggota dengan kulit terang yang menonjol. Jika beberapa kelompok yang berbeda pergi ke tempat yang demikian, dan jika satu kelompok membawa sedikit gen untuk warna terang, kelompok ini seketika dapat punah. Seleksi alam berlaku pada karakteristik yang sudah ada, dan tidak mengembangkan yang baru.



            Menarik untuk diperhatikan pada manusia yang punah pada zaman batu di Eropa, mereka sekarang disadari sepenuhnya sebagai manusia, sebenarnya semua menunjukkan bukti adanya kekurangan vitamin D pada kerangka tulang mereka. Pada kenyataannya, hal ini, ditambah lusinan anggapan evolusi, telah membuat mereka dikelompokkan sebagai manusia kera selama beberapa waktu yang panjang. Dengan demikian cukup masuk akal mengatakan bahwa mereka adalah ras berkulit hitam yang tidak cocok dengan lingkungan di mana mereka pindah karena gen warna kulit yang dimilikinya dari semula. (Perhatikan bahwa seleksi alam ini, seperti biasa disebut, tidak menghasilkan warna kulit, tetapi hanya bekerja pada warna yang tercipta yang sudah ada di sana).

 

 Akibat-akibat lain

            Kelompok manusia yang sudah dilengkapi denqan sifat tertentu mungkin dengan sengaja (atau setengah sengaja) telah membuat pilihan yang berkaitan dengan lingkungan di mana mereka pindah. Sebagai contoh, orang dengan gen untuk kulit tebal, dengan banyak lapisan lemak di kulit akan cenderung tinggal di tempat yang panas (tidak nyaman).

 

Bukti lain


            Bukti dari kejadian di Babel yang merupakan asal mula manusia tidak lebih hanya secara biologis dan genetika. Karena semua bangsa diturunkan dari keluarga Nuh pada beberapa waktu yang lalu, kita akan terkejut jika - dalam cerita atau legenda dari banyak kelompok - tidak ada beberapa kenangan, sekalipun diubah oleh waktu dan penceritaan kembali dari kejadian bencana alam ini. Kenyataannya, ban yak budaya memiliki cerita tentang Banjir yang menghancurkan bumi ini. Seringkali semua itu secara mengejutkan memiliki persamaan dengan kejadian asli yang sesungguhnya (delapan orang diselamatkan di perahu, pelangi, burung yang dikirim, dan lainnya).

Kenyataannya, sebagian besar suku "primitif" masih memiliki kenangan-pada cerita rakyat dan aqarna mereka-tentang suatu kenyataan bahwa nenek moyang mereka menolak Allah yang hidup, Sang Pencipta. Don Richardson, misionari dari Peace Child yang terkenal, telah menunjukkan bahwa pendekatan misionari tidak dibutakan oleh prasangka evolusi. Dengan demikian mencari mata rantai ini, dan mernanfaatkannya, telah melahirkan berkat tuaian yang melimpah pada banyak kesempatan.[1]

 

Mengapa pandangan penciptaan (kreasionisme) yang alkitabiah itu begitu penting?

           
Menanyakan mengapa pandangan penciptaan (kreasionisme) yang alkitabiah itu penting sama halnya seperti menanyakan mengapa fondasi itu begitu penting bagi sebuah bangunan. Pandangan kreasionisme yang alkitabiah menjadi fondasi bagi iman Kristen. Kekristenan dimulai dari kitab Kejadian pasal satu, melalui pernyataan "Pada mulanya Allah menciptakan…"

            Pernyataan ini menegaskan soal karya penciptaan dan menentang pandangan yang mengagungkan evolusionisme (keyakinan bahwa alam semesta dimulai dengan peristiwa "big bang." Pandangan ini terus berkembang sejak pertama kali dikemukakan). Pandangan kita mengenai karya penciptaan akan menentukan apakah kita percaya kepada Firman Allah atau mempertanyakan kebenarannya.

            Sebagai orang Kristen, kita harus membedakan antara kreasionisme dan evolusionisme. Apa perbedaan dari kedua pandangan ini? Mana yang benar? Apakah mungkin untuk percaya pada kedua pandangan ini sekaligus? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan mendefinisikan apa sebenarnya kreasionisme yang alkitabiah dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi sistem keyakinan dasar kita.

            Pentingnya pandangan kreasionisme yang alkitabiah adalah: pandangan ini menjawab pertanyaan mendasar mengenai keberadaan manusia. 1. Bagaimana kita bisa ada? Dari mana kita berasal? 2. Mengapa kita ada? Apakah tujuan hidup kita? Apa penyebab dari seluruh masalah kita? Apakah isu mengenai dosa dan keselamatan itu penting? 3. Apa yang terjadi setelah kita mati? Apakah ada kehidupan setelah kematian?


            Kitab Kejadian merupakan fondasi bagi seluruh isi Alkitab, di mana pertanyaan-pertanyaan terkait soal ini dijawab. Kitab Kejadian itu serupa dengan akar pohon, yang menjadi fondasi dari Alkitab dan menyediakan sumber kehidupan spiritual bagi seluruh isi Alkitab. Jika Saudara memotong akar dari sebuah pohon, maka pohon tersebut akan mati. Jika Saudara meragukan kitab Kejadian, maka Saudara menghapus otoritas dari seluruh isi Alkitab.


            Pernyataan di kitab Kejadian 1:1, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi," menyatakan tiga kebenaran utama, yang merupakan dasar bagi pandangan kreasionisme yang alkitabiah dan iman Kristen. Pertama, Allah itu Esa. Ini bertentangan dengan politeisme pagan dan dualisme filsafat humanis modern. Kedua, Allah adalah Pribadi, yang berada di luar penciptaan. Hal ini berbeda dengan panteisme, di mana Allah terlihat dekat tapi tidak transenden. Ketiga, Allah itu Maha Kuasa dan kekal. Hal ini berbeda dengan berhala yang disembah oleh orang-orang.

            Allah sudah “ada” sebelumnya, “ada” saat ini, dan akan selalu “ada” – karena Dia menciptakan segala sesuatu dari “tidak ada” menjadi “ada” hanya dengan berfirman. Bagaimana dengan pertanyaan kedua, mengapa kita berada di sini?

            Pandangan kreasionisme yang alkitabiah menjawab pertanyaan mengenai kondisi umat manusia. Pandangan ini berkaitan dengan terjatuhnya manusia ke dalam dosa, tetapi juga diikuti dengan janji mengenai adanya penebusan. Penting untuk memahami jika umat manusia dipersatukan di “dalam satu orang,” yaitu Adam – manusia yang benar-benar pernah hidup.

            Jika Adam bukan manusia dalam arti sesungguhnya, maka kita tidak memiliki penjelasan yang masuk akal mengenai bagaimana dosa bisa masuk ke dalam dunia ini. Jika umat manusia, di dalam Adam, tidak pernah jatuh ke dalam dosa sehingga terpisah dari kasih karunia Allah, maka manusia tidak perlu diselamatkan oleh kasih karunia melalui Yesus Kristus.

            Surat 1 Korintus 15:22 mengatakan, "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus." Dua hal yang paralel ini – Adam sebagai kepala dari umat manusia yang terjatuh ke dalam dosa, dan Kristus sebagai kepala dari umat manusia yang ditebus – penting bagi pemahaman seseorang mengenai konsep keselamatan. "Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar" (Rm 5:18-19).

            Kita harus memegang pandangan kreasionisme yang alkitabiah sebagai dasar bagi sistem nilai kita. Narasi soal karya penciptaan harus sungguh-sungguh dipahami sebagai sebuah fakta, bukan sebagai dongeng. Jika kisah di kitab Kejadian ini hanyalah sebuah kisah fiksi, maka nilai-nilai yang dinyatakan di sana hanyalah berdasarkan logika manusia, yang bisa berubah sebagaimana manusia "berkembang," sehingga menjadi tidak valid. Dasar dari konflik yang terjadi antara ilmu pengetahuan dan agama (khususnya Kekristenan) adalah asumsi kalau ilmu pengetahuan adalah fakta, sementara agama hanyalah filosofi. Jika ini benar, maka nilai-nilai Kristiani hanya sekedar nilai-nilai bagi orang Kristen, tak ada kaitannya dengan dunia ini.

            Pertanyaan utama lainnya bagi umat manusia adalah: apa yang terjadi setelah kita mati? Jika manusia hanyalah bagian dari alam semesta yang ber-evolusi, sehingga manusia hanya kembali ke tanah ketika ia mati, maka manusia tidak memiliki jiwa atau roh. Kehidupan saat ini adalah segala-galanya. Pandangan ini menyediakan kita satu tujuan hidup saja: untuk mengikuti aturan evolusi – di mana yang kuat yang akan menang (survival of the fittest).

            Kekristenan, di sisi lain, menyediakan sistem moral yang baik kepada kita, yang telah ditetapkan oleh Pribadi yang transenden dan supranatural. Moralitas Allah menetapkan standar yang tidak akan berubah, yang bukan saja mengetengahkan kehidupan yang lebih baik bagi kita secara pribadi, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita bisa mengasihi orang lain sehingga bisa membawa kemuliaan bagi Pencipta kita. Standar ini dicontohkan sendiri oleh Kristus. Melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, kita menemukan tujuan di dalam kehidupan ini. Termasuk pengharapan atas kehidupan kekal bersama Allah di surga kelak.

            Pandangan kreasionisme yang alkitabiah itu penting karena pandangan ini menjadi satu-satunya pandangan yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan utama tentang eksistensi kehidupan ini. Ini memberi kita makna yang lebih besar dari diri kita sendiri. Harus jelas bagi semua orang Kristen: pandangan penciptaan dan evolusi benar-benar berbeda satu sama lainnya. Keduanya akan selalu saling bertentangan.[2]

 

            Tidak ada satu pun bagian di Alkitab yang mengindikasikan kalau Allah menciptakan manusia lain selain Adam dan Hawa. Dalam Kejadian pasal 2 kita membaca, "Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, --belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu--ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

            Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia (the man) yang dibentuk-Nya itu… TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia… Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu" (Kej 2:4-8,18,21-22).

            Perhatikan bahwa ayat tersebut mengatakan, "disitulah ditempatkan-Nya manusia (the man) yang dibentuk-Nya itu." Kata yang digunakan bukan "men," hanya satu "man." Manusia ini seorang diri saja (ay.18), sehingga Allah menciptakan seorang wanita dari tulang rusuknya untuk menjadi pasangannya. Umat manusia merupakan keturunan dari dua manusia tersebut.[3]

3.      Penyerangan

 

Ø  Apakah Tuhan tidak bisa membuat ras bermacam-macam dari satu manusia yaitu Adam? Bisa, ingat Tuhan mahakuasa dan kretif. Kenapa Allah menciptakan bermacam-macam jenis saat penciptaan karena Dia suka keindahan.

Ø  Ingat pada saat penciptaan Tuhan juga menciptakan yang lain tidak hanya manusia, ini menunjukan sebuah keberagaman yang Tuhan rancangkan.

Ø  Apakah berjalannya waktu ribuan tahun semejak penciptaan manusia tidak mengalami perubahan dari segi ras? Tentu berubah, karena mengalami regenerasi, contohnya sistem pemerintahan di Indonesi mulai dari presiden pertama sampai sekarang apakah sama sistem, cara, infrastruktur dll. Beda dong setiap orang punya gaya, dan cara tersendiri. Tidak bisa digeneralisasikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber data:

 

Buku

 

Ken Ham, 1987, The Lie: Evolution. Creation-Ufe Publishers, San Diego, California, USA.

Ken Ham, Andrew Snelling, Carl Wieland, 1990, Jawaban Pasti atas 12 Hal yang Paling Banyak Dipertanyakan tentang Evolusi dan Penciptaan, Andi, Yogyakarta.


Donald Richardson, 1986, Eternity in Their Heart. Regals Book, Division of Gospel Lights, Ventura, California, USA.

 R. Jones, 1987, Pemburu Zaman Es Tasmania. Australian Geographic. No.8 (Okt. - Des.), hal. 26-45.

 R. Jones, 1977, Paradoks orang Tasmania. In: Wright, R.SV (Penerbit), Stone Tools as Cultural Markers, Australian Institute of Aboriginal Studies, Canberra.


Internet

 

English Version : http://www.answersingenesis.org/Home/Ar ... aces18.asp

BAGAIMANA BANGSA-BANGSA YANG BERBEDA MUNCUL? - SarapanPagi Biblika ...

www.sarapanpagi.org › BELAJAR ALKITAB › Penciptaan › Manusia

 

diakses 30 Okt 2007 - 9 postingan  ‎1 penulis ibu Rita Wahyu

http://www.sarapanpagi.org/bagaimana-bangsa-bangsa-yang-berbeda-muncul-vt1661.html

Diakses Fri Nov 02, 2007 11:07 am penulis ibu Rita Wahyu           

https://rumahfiqih.com/x.php?id=1208076919

 

 



[1] Donald Richardson, 1986, Eternity in Their Heart. Regals Book, Division of Gospel Lights, Ventura, California, USA.

[2] https://www.gotquestions.org/Indonesia/Kreasionisme-alkitabiah.html

[3] https://www.gotquestions.org/Indonesia/Allah-menciptakan-manusia-lain.html


Posting Komentar untuk "Mengapa ada RAS manusia yang berbeda-beda jika manusia pertama yang diciptakan Allah hanya satu"