Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

PERTOBATAN DI PINGGIR JALAN DAMSYIK

 



PERTOBATAN DI PINGGIR JALAN
DARI SEORANG YANG SEDANG DILIPUTI AMARAH.


Pasal kesembilan dari kitab Kisah Para Rasul dimulai dengan tiba-tiba dan sedikit kasar. Darah Saulus sedang mendidih. Ia sedang menuju Damsyik dalam rencana mengadakan pembunuhan besar-besaran. Ia menguasai wilayah yang ada di bagian utara Yerusalem dengan amarah Aleksander Agung yang sedang menyapu seluruh Persia, dan ketetapan teguh dari William Tecumseh Sherman dalam Gerakan bumi hangusnya di seluruh Georgia. 


Saulus menuju perbatasan dengan hati yang berkobar-kobar tak terkendali. Amarahnya telah hampir mencapai titik tertinggi. Kehausan akan darah dan kebencian terhadap para pengikut Kristus telah mendorongnya kuat sekali menuju tempat tujuan yang jauh: Damsyik. Jika anda  seorang pengikut Kristus yang tinggal di manapun dekat Yerusalem, pasti anda tidak ingin mendengar Paulus mengetuk pintu rumah anda.


Pada akhirnya, kasih karunia Allah memperoleh, mengalahkan, dan menangkap kehendak yang memberontak itu. Untuk sementara waktu, kasih karunia tetap menjadi sesuatu yang asing. Adegan dibuka dengan, 
sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kis.9:1-2).


Mengapa Damsyik? Saulus berketetapan untuk pergi kepada ekstem terjauh dalam misinya menangkap para pengikut jalan Tuhan. Lebih dari 100 mil di sebelah utara Yerusalem, perjalanan menuju Damsyik bukanlah usaha yang kecil. Bagi Saulus, perjalanan ini akan memberi hasil yang luar biasa.


Menurut Yosefus, pada satu saat dalam sejarah, 10.000 orang Yahudi dibunuh di Damsyik- suatu bukti kuat bahwa pada suatu periode waktu tertentu ada sejumlah besar orang Yahudi tinggal di kota itu. Saulus tentunya sudah memiliki hasil sensus itu. Ia tahu bahwa banyak penghianat Yahudi telah meninggalkan ibu kota Israel untuk mencari perlindungan di tempat yang jauh seperti Damsyik. Ia merencanakan suatu rencana agresif untuk mengobrak-abrik kota itu, menangkap orang-orang kafir itu, dan membawa mereka ke pengadilan. Syukurlah, Allah mempunyai rencana lain.


Kita membaca ini: 
“Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis.9:3-4). Anda hampir dapat mendengar suara rem berdecit. Pada saat itu, perjalanan pembunuhan yang dilakukan Saulus dibawa kepada suatu perhentian Ilahi.


Secara mendadak. Bukankah ini seperti pekerjaan Tuhan? Tidak ada pemberitahuan apa-apa terlebih dahulu. Tidak ada tulisan di langit, “hati-hati besok, Saulus, Allah akan menangkapmu.” Allah tetap diam dan tenang Ketika Saulus melanjutkan usaha pembunuhannya untuk menyerbu Damsyik. Tentu saja ia mendiskusikan setiap rincian dengan teman-temannya. Allah tidak campur tangan…. Sampai. Pada saat di mana hal itu akan memberikan pengaruh paling besar, Allah melangkah masuk. Tanpa pemberitahuan, jalan hidup Saulus diubah secara dramatis.


Hal seperti itu masih terjadi, sampai saat ini. Tanpa pemberitahuan, kehidupan tiba-tiba berubah. Mungkin itu adalah suatu kecelakan mobil yang teragis yang merenggut nyawa pasangan hidup anda. Tiba-tiba, Allah masuk ke dalam skenario dan menyita perhatian anda. Atau mungkin hal itu datang melalui kematian seorang anak. Di saat anda mengalami kesedihan yang paling mendalam, kehidupan anda dan kehidupan keluarga anda dipengaruhi selamanya. 


Kadang-kadang, perubahan yang tak terduga dalam kehidupan. Seperti gelombang merah, kemalangan menabrak pantai kehidupan kita yang damai dan membuat kita jatuh telentang. Ajaibnya, sentakan itu menyadarkan diri kita dan kita tiba-tiba teringat bahwa Allah memegang kendali.


Untuk pertama kalinya, dalam kesombongan dan keyakinan diri yang kokoh, Saulus menemukan dirinya sangat membutuhkan orang lain. Ia tidak hanya terkapar di tanah, ia juga buta. Respons selanjutnya adalah waspada, dan tiba-tiba ia mendengar suara dari sorga yang berkata,  "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis.9:4). Saulus yakin ia telah menganiaya banyak orang-para pengikut Mesias palsu. 


Sebaliknya, ia menyadari bahwa obyek sesungguhnya dari keberutalannya yang keji adalah Kristus sendiri.


Werren wiersbe mengungkapkan suatu jawaban imanijer yang luar biasa yang mungkin telah diberikan oleh Saulus kepada siapa saja yang berani menanyakan mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan:


Yesus dari Nazaret sudah mati. Apakah engkau mengharapkan aku percaya bahwa yang disalibkan itu adalah Mesias yang dijanjikan? Menurut hukum kami, siapapun yang tergaantung di sebuah pohon, terkutuk. 


Akankah Allah mengambil seorang nabi palsu yang terkutuk dan menjadikannya mesias? Tidak! Para pengikutnya berkhotbah bahwa Yesus hidup dan mengadakan mujizat-mujizat melalui mereka. Tetapi kuasa mereka berasal dari setan, bukan dari Allah. Ini adalah sekte membahayakan, dan aku bermaksud untuk menghapuskannya sebelum sekte ini menghancurkan iman Yahudi historis kami. 



Semua keberanian itu lenyap Ketika ia mendengar, "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"


Saya rasa menarik bahwa Tuhan mengetahui namanya. Bukan hanya itu ia tahu setiap helai rambut di kepala, setiap pikiran jahat yang timbul dalam pikirannya, setiap motivasi busuk yang mendorong menuju Damsyik. Tuhan tahu segala sesuatu dari awal sampai akhir; tidak satupun kesalahan mengenai hal itu.


Kita hidup dalam suatu kebudayaan yang memandang keliru antara kemanusiaan dan ketuhanan. 


Garis batasnya menjadi kabur. Ini adalah sejenis teologia buruk yang menganggap Allah duduk di sisi sorga, sambil berpikir dan bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Betapa menggelikan! Allah itu maha tahu. Akibatnya jelas, bahwa Allah tidak pernah terkejut akan segala sesuatu, keputusan-keputusan kita yang berdosa dan perbuatan-perbuatan jahat kita sekalipun. Tidak ada sesuatu hal pun yang pernah membuat-Nya terkejut. 


Sejak saat kita dalam kandungan sampai saat kita meninggal, kita aman berada dalam pandangan-Nya yang penuh perhatian dan juga dalam rencana-Nya yang berdaulat.


Semua ini membawa kita kembali kepada adegan dramatis di jalan menuju Damsyik. "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Saulus, belum pernah melihat cahaya seterang itu, atau mendengar suara sekeras itu, menjawab dengan lembut dan hormat, "Siapakah Engkau, Tuhan?" beberapa orang percaya bahwa itulah yang menandai pertobatannya. Tetapi ia memakai kata dalam Bahasa Yunani kuriosyang berarti “tuan”. Itu adalah ungkapan hormat. "Siapakah Engkau, Tuhan?" Saulus bukan saja buta, ia juga kebingungan. Suara yang berwibawa itu belum pernah ia dengar sebelumnya.


Jawabannya menghentakan dia seperti desingan sebuah pistol: "Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tentulah ada beberapa detik kebisuan ketika Saulus mendengarkan keajaiban itu. Sekali hal itu terjadi, ia berhenti percaya kepada Yesus yang sudah mati. Kehendaknya yang memberontak ditangkap. Perjalanannya berubah arah. Pikirannya mengalami perubahan yang pada akhirnya mengubah dirinya secara total.


Itulah esensi dari pertobatan sejati-pikiran yang diubahkan. Kata dalam Bahasa Yunani adalah metanoia, dari kata kerja metanoeoyang secara harafiah berarti “mengubah pikiran seseorang”. Itulah yang persis terjadi pada seorang Farisi yang sombong dalam perjalanan menuju Damsyik. Begitu banyak hal dalam pikiran Saulus berubah-dan berubah secara total. Ia mengubah pikirannya mengenai Allah, mengenai Yesus, dan mengenai kebangkitan, mengenai orang-orang yang mengikut Yesus. Ia tentu menggeleng-gelengkan kepala selama berhari-hari. Ia pikir Kristus telah mati. 


Sekarang ia yakin bahwa Kristus hidup. Pribadi yang mengenal namanya ini juga tahu apa yang sedang dilakukannya. Pemberontak yang sedang diliputi amarah itu akhirnya bertemu dengan tandingannya, dan tidak ada tempat atau cara untuk bersembunyi.


Tentu Allah bukan “manusia besar”, tetapi hal yang sama berlaku  bagi diri-Nya. Mazmur 139:12 mengatakan, “bagi-Mu kegelapan sama seperti terang.” Kita tidak dapat bersembunyi dari Allah yang maha tahu, maha melihat, dan maha besar. Saulus mempelajari pelajaran teologia yang luar biasa itu dalam perjalanan menuju Damsyik. Kehidupannya diubahkan untuk selamanya ketika Yesus ,menginterupsi rencananya. Tandailah-Saulus, pada saat yang luar biasa itu, lahir baru.


Banyak yang datang kepada-Nya dengan sendirinya, Ketika sedang berdoa secara pribadi di rumah mereka. Siang atau malam seorang berdosa dapat memanggil nama Tuhan Yesus Kristus di dalam iman dan diselamatkan. Mari kita berhenti membuatnya menjadi rumit. Sebagaimana yang terjadi pada Saulus, kasih karunia itu berlimpah-limpah. 


Saulus menyadari bahwa Yesus hidup, yang ia benci dan ia sangkali seumur hidupnya, sekarang adalah Juruselamat dan Tuhannya.


Dalam bukunya Come Thirsty Max Lucado menuliskan satu kalimat “TIADA HATI YANG TERLALU KERING UNTUK DIA JAMAH”.


Hukum Taurat dan Kasih Karunia


Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menulis, 
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (RM.5:19-21).

Musa adalah wakil hukum Taurat. Anda tentu ingat bahwa ia memimpin umat Israel melalui padang gurun, dan membawa mereka ke sungai Yordan, tetapi di sana ia meninggalkan mereka. Ia tidak dapat membawa mereka melewati sungai itu, yang merupakan suatu lambang kematian dan penghakiman; tetapi Yosua (yang berarti Yesus-juruselamat) memimpin mereka melewati keamatian dan penghakiman-melalui Yordan menuju tanah perjanjian. Di sini kita melihat perbedaan antara hukum Taurat dan kasih karunia; antara hukum Taurat dan Injil.

Ambilah ilustrasi lain. Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir di bawah hukum Taurat. Anda tentunya ingat sebelum Yesus menampakan diri di sungai Yordan, seruan Yohanes setiap hari adalah, ‘Bertobatlah: karena kerajaan Allah sudah dekat!” ia menyerukan hukum Taurat dengan suara keras. Ia membawa para pengikutnya ke sungai Yordan dan membaptis mereka. Ia membawa mereka di tempat yang jauh yaitu, kematian. Tetapi ada seorang yang datang setelah dia yang dapat membawa mereka ke tanah perjanjian. Seperti Yosua memimpin orang-orang melalui Yordan ke Kanaan-demikian pula Kristus menuruni sungai kematian Yordan, melalui kematian dan penghakiman, menuju ke tanah kebangkitan.


Apabila anda menyelidiki Alkitab, anda akan menemukan bahwa Hukum Taurat membawa kita kepada kematian. “dosa berkuasa atas kematian.” Seorang teman memberitahukan kepada saya bahwa temannya, seorang hamba Tuhan, pernah dipanggil untuk memipin acara pemakaman, menggantikan seorang pendeta dari satu di antara penjara-penjara di Inggris, yang hadir. Ia memperhatikan bahwa hanya ada satu orang yang mengikuti janazah penjahat it uke makam. Ketika makam itu telah ditutup, orang ini memberitahukan kepada hamba Tuhan itu bahwa ia adalah pejabat hukum yang berkewajiban melihat jenazah si pelanggar hukum hingga dimakamkan; itulah “akhir” hukum Inggris.


Inilah yang dilakukan hukum Taurat kepada orang berdosa; hukum itu membawanya kepada kematian, dan meninggalkannya di situ. Hati saya sangat iba kepada mereka yang mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri menurut hukum Taurat. hukum Taurat belum pernah, tidak akan pernah, dan tidak pernah dapat-menyelamatkan jiwa. Ketika orang-orang mengatakan mereka akan berusaha dan melakukan yang terbaik, dan dengan demikian menyelamatkan diri mereka sendiri dengan hukum Taurat, saya ingin membawa mereka pada dasar mereka sendiri. Pernahkah mereka melakukan yang terbaik? Seandainya ada kesempataan bagi mereka untuk melakukan yang terbaik, pernahkah mereka melakukan dengan lebih baik? Jika seorang ingin melakukan yang terbaik, biarkan ia menerima kasih Karunia Allah; itu adalah hal terbaik yang mungkin dapat dilakukan oleh siapa saja.


Tetapi anda akan bertanya, untuk apa hukum Taurat diberikan? Mungkin terdengar sedikit aneh, akan tetapi, hukum Taurat diberikan supaya hukum itu membungkam setiap mulut manusia. 
“Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam hukum Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke dalam hukum Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Hukum Taurat membungkam mulut saya, kasih karunia membukanya. hukum Taurat mengunci hati saya, kasih karunia membukanya-kemudian mata air kasih mulai mengalir. Ketika mata manusia dibukakan untuk melihat kebenaran yang mulia, mereka akan menghentikan pergumulan mereka. Mereka akan berhenti mencoba mengusahakan jalan mereka menuju kerajaan Allah dengan melakukan hukum Taurat. Mereka akan menyerahkan diri mereka karena sudah sesat, dan menerima keselamatan sebagai hadiah cuma-cuma.

Hidup tidak pernah datang melalui hukum Taurat. Seperti yang diamati oleh seseorang Ketika hukum Taurat diberikan, tiga ribu orang kehilangan hidup; tetapi Ketika kasih karunia dan kebenaran datang pada hari Pentakosta, tiga ribu orang mendpatkan hidup. Di bawah hukum Taurat, jika sesorang menjadi pemabuk, ahli hukum Taurat akan mengeluarkan dia dan merejamnya sampai mati. Ketika si bungsu yang menghambur-hamburkan uang pulang ke rumah, kasih karunia menyambutnya dan memeluknya. hukum Taurat mengatakan Rajam dia!- kasih karunia mengatakan, Peluk dia! hukum Taurat mengatakan, Pukul dia!- kasih karunia mengatakan, Ciumlah dia! hukum Taurat mengejar dia dan mengikatnya; kasih karunia mengatakan, lepaskan dia dan biarkan dia pergi! hukum Taurat mengatakan betapa bengkok saya; kasih karunia datang dan meluruskan saya.

Saya merasa kasihan kepada mereka yang selalu terpaku pada Sinai, karena berharap akan mendapat kehidupan dari sana. Jika hukum Taurat adalah pintu menuju sorga, maka tidak ada harapan bagi setiap kita. Allah yang sempurna hanya mempunyai standar yang sempurna (bukan SNI). Ia yang melakukan satu pelanggaran bersalah sepenuhnya; oleh karena itu “semua orang telah berdosa, semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah.”


Paulus mengatakan kepada jemaat di Galatia 3:21-26 

“Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Posting Komentar untuk "PERTOBATAN DI PINGGIR JALAN DAMSYIK"