Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Renungan Imamat 19:17-18 MASIHKAH DENDAM MEMBARA DI HATI ??🔥

 



MASIHKAH DENDAM MEMBARA DI HATI ??🔥

Baca:  Imamat 19:17-18


"Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN."  Imamat 19:18


Ketika disakiti, dijahati atau diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain naluriah kita cenderung untuk melakukan pembalasan atau menyimpan dendam di hati, yang sewaktu-waktu  -ketika timing sudah tepat-  akan dilampiaskan.


     Sebagai orang percaya layakkah kita  'memelihara'  dendam?  Mendendam adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan.  Dendam berarti menyimpan akar pahit, sakit hati dan juga kebencian terhadap orang lain!  "Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia."  (Imamat 19:17).  


Orang yang mendendam pasti memiliki hati yang tidak bersih, biasanya pikirannya akan dipenuhi dengan rencana-rencana jahat.  Semakin kita mendendam semakin kita dibawa kepada tindakan jahat lainnya.  Ini seperti mata rantai yang saling terhubung antara perilaku buruk yang satu kepada perilaku buruk lainnya. Memiliki dendam terhadap orang lain sama artinya belum bisa mengampuni kesalahan orang lain.  


Alkitab menegaskan bahwa jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita  (baca  Matius 6:14-15);  artinya dendam hanya akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan, termasuk menghalangi doa-doa kita.  Daud berkata,  "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."  (Mazmur 66:18).  Dendam tidak pernah membawa kepada kebaikan, sebaliknya hanya akan membuat hidup menderita.


  Rasul Paulus menasihati,  "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."  (Kolose 3:13).


Ingaaat Brooo !!!!

"...janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan."  Roma 12:19.


JANGAN BERSANDAR PADA KEKAYAAN


Jangan pernah bersandar pada kekayaan, sebab apa yang kita miliki hari ini boleh saja lenyap dalam beberapa hari. Bila hati kita terlalu melekat pada harta, bila kita kehilangan maka akan menjadi sangat kecewa. Ketahuilah bahawa harta bukanlah segala-galanya.


Cobalah untuk dapat melepaskan segala hal yang berbentuk duniawi. Kejarlah harta di surga yang adalah abadi. 


Apa yang kita miliki di dunia adalah titipan sementara yang seharusnya kita bagi kepada sesama. Bila kita nanti mati, tidak mungkin semua harta itu akan ikut dikuburkan bersama jasad kita.


Harta tidak menjamin kita tetap hidup, harta tidak menjamin kita bahagia. Namun ketika kita mengutamakan Tuhan, semua boleh Tuhan tambahkan dalam kehidupan kita, bahkan harta yang selama ini kita impikan.


"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di syurga; di syurga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."

(Matius 6: 19-20).


DAMPAK MENCINTAI TAURAT TUHAN❤️

Baca:  Mazmur 119:97-104


"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."  Mazmur 119:97


Semua orang pasti pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.  Cinta membuat hati orang berbunga-bunga, dunia terasa menjadi milik berdua.  Ketika terpisah oleh jarak, rasa rindu pun menyerang, hasrat ingin bersua pun bergelora.  


Rasa rindu dan cinta akan terobati ketika mereka berjumpa dan menghabiskan waktu bersama.  Sungguh, tidak ada yang dapat menghalangi kekuatan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.  Salomo menyatakan bahwa  "...cinta kuat seperti maut,"  (Kidung Agung 8:6).


     Dalam mazmur ini Daud menyatakan diri sebagai seorang yang sedang jatuh cinta.  Rasa cinta yang mendalam ini bukan ia tujukan kepada seseorang, melainkan kepada Taurat Tuhan. 


 Banyak orang Kristen menganggap bahwa membaca dan merenungkan firman Tuhan adalah pekerjaan yang sangat membosankan dan menjadi beban tersendiri.  Karena itu mereka melakukannya dengan tidak sepenuh hati, setengah-setengah atau dalam keadaan terpaksa.  Berbeda dengan Daud yang menjadikan Taurat Tuhan sebagai kesukaan.  "Betapa kucintai Taurat-Mu!"  (ayat nas).  Karena mencintai Taurat Tuhan maka Daud merenungkannya sepanjang hari. 


 Mengapa Daud begitu mencintai Taurat Tuhan? 

Karena ia tahu bahwa di dalam Taurat-Nya terkandung janji-janji Tuhan yang luar biasa dan kuasa yang teramat dahsyat.  "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  (Mazmur 33:9).


     Itulah sebabnya ia dengan sukacita dan rela hati menyediakan waktu untuk merenungkan Taurat Tuhan itu siang dan malam. 


 Dampaknya pun sungguh luar biasa:  "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu."  (Mazmur 119:98-100). 


 Daud juga semakin peka rohani  (pancaindera terlatih), sehingga ia dapat menahan diri terhadap hal-hal yang jahat dan sanggup membedakan yang baik dari pada yang jahat. 


 Sejauh mana Saudara mencintai Taurat Tuhan?  Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?


Ingaat ..!!

"...tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam...apa saja yang diperbuatnya berhasil."  Mazmur 1:2-3


Posting Komentar untuk "Renungan Imamat 19:17-18 MASIHKAH DENDAM MEMBARA DI HATI ??🔥"