Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Renungan Amsal 10:13 MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN

 



Ada seorang pianis di sebuah kafe, ‎permainan pianonya sangat bagus,‎

para pengunjung kafe itu rata² datang ke sana hanya untuk mendengarkan permainan pianis ini.


Suatu malam, ‎seorang pelanggan meminta sang pianis menyanyi.


"Saya tidak menyanyi, Pak."‎


"Saya bosan mendengarkan dentingan piano, s‎aya ingin dia menyanyi!" kata pengunjung kepada bartender yang sedang bertugas di sana.


Si bartender berteriak,

"Hei Bung... ‎Kalau mau di bayar, nyanyikan satu lagu, p‎elanggan minta kau nyanyi!"


Karena merasa sudah terdesak,

sang pianis pun memenuhi permintaan si pelanggan.


Dia yang selama ini tak pernah menyanyi di depan umum;

menyenandungkan lagu untuk pertama kalinya.


Hasilnya sungguh di luar dugaan, ‎tak ada orang yang pernah mendengar lagu jazz klasik seperti Sweet Lorraine di nyanyikan seperti malam itu oleh Nat King Cole (1940).


Sang pianis ternyata punya bakat terpendam,‎

ia bisa saja menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang pianis tanpa nama di sebuah kafe, yang juga tidak terkenal.


Tapi karena ia di paksa menyanyi,

ia akhirnya bisa menjadi salah satu entertainer terkenal di Amerika bahkan dunia.‎


Mungkin di antara kita ada yang masih meragukan kemampuan yang kita miliki,‎

kita merasa diri kita tak memiliki suatu keterampilan atau kebisaan yang istimewa, ‎lalu perasaan ini berkembang menjadi minder.


Sebelum menjadi ber-larut², ‎sadarilah sesungguhnya kita mempunyai Keterampilan dan Kemampuan, tapi ‎seringkali kita tidak menyadari hal itu, ‎seperti halnya sang pianis dalam kisah di atas.


Karena itu, pertanyaan yang tepat untuk di ajukan pada diri sendiri bukannya "Kemampuan apa yang aku miliki yang bermanfaat?",

melainkan "Bagaimana aku akan menggunakan kemampuan apapun yang aku miliki?"


DENGAN KESADARAN DAN KESUNGGUHAN UNTUK MENEKUNI APAPUN BAKAT KITA, ‎HASILNYA HAMPIR DI PASTIKAN MAKSIMAL.


“Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal,

sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.”

(Amsal 10:13)

(Kunci kehidupan berasal dari hati)


Sesungguhnya ada banyak kebaikan di sekeliling kita, namun‎ keegoisan menutupi hati, ‎membuat kita tidak melihatnya. 


Sesungguhnya kita punya banyak sahabat, namun‎ kebencian membuat kita memandang mereka sebagai musuh. 


Sesungguhnya kehidupan kita sudah bahagia,  namun‎ rasa tidak bersyukur  membuat kita hidup menderita. 


Sesungguhnya pekerjaan kita sudah bagus, namun‎ ambisi berlebihan membuat kita terus mengeluh dan protes.


Sesungguhnya kita sudah memiliki banyak, namun‎ ketamakan dan keserakahan  membuat kita merasa miskin.


Sesungguhnya hidup ini damai,  namun‎ kegelisahan membuat dunia terasa bagai di medan perang.

Kunci permasalahan hidup bukan di luar, melainkan ada di dalam hati, oleh karena itu jagalah hati kita dengan baik.


“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

(Amsal 4:23)


(Percayalah kepada Tuhan)


"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."  

(Amsal 3: 5)

Jadi kalau kita ingin sukses di hadapan manusia, terlebih lagi di mata TUHAN, tidak ada jalan lain selain harus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati di segala keadaan.

Acapkali ketika tantangan datang, banyak dari kita yang tidak lagi percaya kepada TUHAN tapi lebih bersandar pada kekuatan dan kepintaran diri sendiri, padahal fikiran dan kekuatan manusia itu terbatas.

Firman TUHAN mengajarkan supaya kita tetap mengandalkan Tuhan.

Jangan bersandar kepada pengertian sendiri, tetapi biarlah kita bersandar kepada firman TUHAN.

Jika saat ini kita berhasil dalam segala bidang, bahkan memiliki harta yang melimpah, biarlah kita sedar dan mengakui semua itu datangnya dari TUHAN, bukan karena kuat dan gagah kita.

Percaya kepada TUHAN berarti membawa segala sesuatu kepada-Nya dalam doa.

TUHAN berkata;

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

(Matius 7:7)

Jadi, tidak ada pilihan selain percaya saja kepada TUHAN karena bagi Dia tidak ada perkara yang mustahil.


= MENERIMA KEMURAHAN.=


LUKAS 6:36.

" Hendaklah kamu murah hati, sama seperti BAPA-mu adalah murah hati."


Sebagai orang percaya kita memiliki BAPA  

Sorgawi yang begitu mengasihi kita dan kasih setia-Nya sungguh tak terbatas.

Kalau BAPA di  dunia saja tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya  apalagi BAPA disorga pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita....

'Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari BAPA segala terang.'( Yak. 1:17a).


Berbicara tentang kemurahan hati bukan semata-mata berbicara tentang memberi dalam bentuk materi saja, dengan kata lain kemurahan hati menyangkut banyak aspek didalam kehidupan ini....'Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.'(1Kor.13:4).


Orang Kristen yang tidak mempunyai Kasih perlu dipertanyakan kekristenannya ...

'Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal ALLAH, sebab ALLAH adalah kasih...dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam ALLAH dan ALLAH di dalam dia.'(1Yoh.4: 8,16b).


Kemurahan hati adalah sifat TUHAN sendiri, banyak orang percaya enggan bermurah hati kepada orang lain, padahal Alkitab menyatakan bahwa orang yang murah hati sesungguhnya berbuat baik kepada diri sendiri.(Ams.11:17a).

Marilah kita menjadi orang yang penuh kemurahan hati seperti KRISTUS...


(Sejukkan hati yang panas dengan kesabaran)


Jika kita mencari ombak, maka kita akan menemuinya di dekat bibir pantai. Ombak akan sangat jarang terlihat di tengah lautan.

Semakin tenang air di tengah laut, maka semakin dalam dasar lautnya. Seperti itulah kondisi hati kita bila menemui persoalan.

Orang yang dangkal kasihnya akan mudah meledak emosinya ketika tersulut persoalan yang kecil. Tetapi orang yang panjang sabar, sekalipun diterpa berbagai macam persoalan akan tetap tenang. 

Orang yang sabar tidak akan merancangkan balas dendam.

Jadilah seperti air yang tenang, yang mampu memadamkan amarah. 

Sejukkan hati dengan kesabaran agar tidak mudah tersulut masalah. Berserahlah kepada Tuhan namun jangan menyerah pada keadaan.

Kendalikanlah diri dari segala bentuk hawa nafsu. 

-jangan marah ketika dipermalukan, -tersenyumlah saat diremehkan, 

-sabarlah ketika menerima cobaan, -bersyukurlah atas apa yang dimiliki, 

-dan hiduplah dalam damai sejahtera yang Tuhan tanam dalam hati.

"Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan."

(Amsal 15: 18).


MULUTMU HARIMAUMU


Benarkah kata-kata lebih tajam dari pedang?


Pedang bisa melukai seseorang, tetapi jika orang tersebut memakai baju besi seperti yang dipakai ksatria pada jaman dahulu waktu berperang, pedang tidak bisa melukai. 


Kata-kata yang menghina/fitnah/ejekan dll yang negatif memang tidak menimbulkan luka apa-apa pada tubuh orang yang menjadi sasaran. 


T e t a p i perkataan bisa melukai hati dan terekam di memori orang yang di hina/difitnah, sekalipun orang tersebut memakai pakaian anti peluru 


S e p e r t i paku yang ditancapkan di kayu, m e s k i p u n paku bisa dicabut kembali t e t a p i ia meninggalkan bekas lubang pada kayu. 


S e t i a p kali kita menghina/memfitnah/mengejek dll. kepada orang lain sama seperti kita menancapkan paku, dan setiap kita minta maaf kepada orang tersebut, sama seperti kita mencabut paku tadi. 


N a m u n bekas yang ditimbulkan paku tetap abadi bersama kayu tersebut.


Oleh karena itu jawaban pertanyaan diatas benar, bahwa kata-kata lebih tajam dari pedang. 

J a d i, mari kita hati-hati menggunakannya. 


            BE CAREFUL !


         ( Yakobus 3 : 8 )


Posting Komentar untuk "Renungan Amsal 10:13 MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN"