Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Khotbah Minggu 11 September 2022 BUKAN LAGI HAMBA DOSA, TETAPI HAMBA KEBENARAN.

 



Minggu, 11 September 2022
Khotbah Pdt.Judistian Pratama Hutahuruk, S.Si,Teol
Nas: 1 Timotius 1:12-17


Tema: BUKAN LAGI HAMBA DOSA, TETAPI HAMBA KEBENARAN.


Apakah semua suka makan bubur? Bubur apa saja, misalnya bubur ayam, bubur khas Bandung, Cimahi, Jakarta, dan masih banyak lagi.

Atau ada yang tidak suka makan bubur?

Saya termasuk salah satu orang yang suka makan bubur? Perut lebih bersahabat jika sarapan bubur di pagi hari.

Lalu apa maksud sebuah uangkapan, NASI SUDAH MENJADI BUBUR? Kelihatannya koq terkesan kurang baik, padahal bubur jika diracik akan enak rasanya, misalnya ditambah kecap, dikasih ayam dan ditambah dengan kerupuk.

Rupanya ungkapan NASI SUDAH MENJADI BUBUR, untuk menggambarkan penyesalan, sebuah kekecewaan. Padahal kalau kita melihat, bubur akan menjadi sangat bernilai jika diracik dan ditambah dengan campuran yang pas, dan rasanya pasti enak.

Begitu juga hidup kita di hadapan Allah, kita berharga dan sangat bernilai. Terlepas dari bagaimana manusia menilai dan memandang kita, bisa saja orang lain menganggap kita sebagai manusia yang tidak bernilai, rusak hancur. Dan manusia bisa menilai kita dengan negatif, tetapi TIDAK DEMIKIAN DI HADAPAN ALLAH. Kita berharga, mulia dan sangat bernilai. (Yesaya 43:4) (Penekanan pendengar).

Jika kita melihat dalam Alkitab, banyak orang yang dengan segala keterbatasan dan kelemahan serta kekurangan mereka justru dipakai oleh Allah menjadi alat yang luar biasa di tangan-Nya. Salah satunya adalah tokoh yang akan kita pelajari dalam bagian Alkitab hari ini, yaitu rasul Paulus.

Surat 1 Timotius ini ditulis oleh Paulus kepada anak rohaninya Timotius, dan surat ini bergendre surat pribadi/personal. Bukan surat umum.

Dalam Ayat 12 Paulus bersyukur Tuhan yang setia melibatkan dirinya yang berdosa dan terbatas untuk dapat melayani. Tuhan yang setia mempercayakan pelayanan kepada Paulus. Dulu Paulus adalah seorang penghujat, ganas dan penganiaya jemaat (ayt 13), tetapi setelah perjumpaanya dengan Yesus, kita semua tahu cerita ini. Paulus kini memiliki perubahan dalam dirinya, dipakai menjadi hamba yang setia, dan Tuhan sendiri menganggap Paulus setia, bukan Paulus yang mengakui dirinya sendiri. 

Namun ia sadar diri telah dikasihani oleh Tuhan. Paulus menyadari semua itu adalah kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus semata. (Ayat 14). Paulus menyadari dirinya seorang yang paling hina dan berdosa (ayt 15). Namun karena kasih karunia itulah Paulus dikasihani, Tuhan Yesus menunjukan seluruh kesabaran-Nya, sehingga hidupnya kini dapat menjadi contoh bagi orang yang percaya kepada Yesus, dan mendapatkan hidup yang kekal (ayt 16).

Ada beberapa hal yang kita bisa pelajari dari bagian ini:

Pertama, jika kita merasa diri tidak berharga, tidak bernilai di hadapan manusia, namun berbeda di hadapan Tuhan, kita tidak pernah di nilai rendah oleh-Nya, kita semua berharga dan bernilai.

Kedua, saat Paulus berjumpa dengan Tuhan, kehidupannya tidak otomatis berubah, namun ada prosesnya. Momentum Paulus untuk berubah, adalah saat Paulus merespons sentuhan Allah dalam kehidupannya melewati kasih karunia, pengalaman Paulus dengan Allah merupakan proses Paulus menuju manusia yang baru di dalam Kristus. Kita semua sama seperti Paulus, bukan lagi hamba dosa, tetapi hamba kebenaran. Kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus dengan darah-Nya. Kita sekarang menjadi berharga.

Tidak peduli latar belakang kita, profesi kita, keburukan hidup kita, kini kita diberikan kasih karunia oleh Tuhan, namun yang menjadi problem, terletak pada pilihan kita, apakah kita mau memilih untuk hidup dalam jalan Tuhan, atau tidak?? Apakah kita mau menggunakan kasih karunia yang ada pada kita, atau tidak.

Apakah hidup kita mau menjadi seperti bubur yang rela dan siap untuk DIRACIK ULANG OLEH TUHAN. Kita yang sudah rusak, bobrok, dan hina. Namun apa yang TUHAN TAMBAHKAN DALAM HIDUP KITA?? KASIH KARUNIA.!!

Pertobatan/bertobat. Inilah yang harus kita pilih dan ambil.

Bertobat itu penting, kita bukan lagi hamba dosa, TETAPI HAMBA KEBENARAN. KITA semua punya kasih karunia. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, maukah kita menggunakan kasih karunia yang ada pada kita itu??? Atau tidak??

Sebuah penelitian mengatakan, bahwa orang akan lebih berhati-hati setelah semua terjadi dalam hidupnya, misalnya orang baru mau memakai helm setelah terjadi kecelakaan, orang baru mau menjaga kesehatannya, setelah mengalami sakit keras, orang baru mau hati-hati dan peduli dengan dirinya, setelah hal buruk terjadi dalam hidupnya.

Yang ketiga, bisakah kita bertobat TANPA HARUS JATUH DALAM DOSA??.

Tidak perlu menunggu disentil oleh TUHAN baru kita bertobat dan berubah. Menunggu dihancurkan dulu, baru kita kembali kepada TUHAN. Ingat KITA ANAK-ANAK ALLAH BUKAN HAMBA DOSA LAGI.

KITA SUDAH MENERIMA KASIH KARUNIA, dan itu yang MENOLONG KITA UNTUK MENJADI PRIBADI YANG BARU DI DALAM KRISTUS.

Jangan kita menunggu dan mengalami hal buruk terlebih dahulu, baru kita mau bertobat.

Melalui surat Rasul Paulus kepada Timotius yang kita pelajari hari ini, kita diingatkan kembali. Bahwa kita HAMBA KEBENARAN bukan hamba dosa lagi.

Kita diberikan pilihan, dan pilihan ada di tangan kita. !!

JANGAN JADI HAMBA DOSA KARENA LEBEL KITA ADALAH HAMBA KEBENARAN.

Segera bertobat dan berubah, JANGAN MENUNGGU NASI MENJADI BUBUR.

Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin. (Ayt 17).


Penerapan Pendengar:

1. Sadar diri dan tau diri bahwa kita hamba KEBENARAN bukan lagi hamba dosa.

2. Tidak perlu minder/ insecure. INGAT Kita BERHARGA DAN BERNILAI DI HADAPAN ALLAH. 

3. Menggunakan kasih karunia dalam diri kita untuk melayani Tuhan dengan efektif.

4. Jangan menunggu pendisiplinan dari TUHAN baru mau bertobat. BERTOBATLAH SETIAP SAAT.


Ibadah Minggu GEREJA PROTESTAN IMANUEL PAUK PRAJA IPDN

Lembah Manglayang Jatinangor (Transkrip oleh Septo).



Posting Komentar untuk "Khotbah Minggu 11 September 2022 BUKAN LAGI HAMBA DOSA, TETAPI HAMBA KEBENARAN."