Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Khotbah Minggu 09 Oktober 2022

 


KHOTBAH Ibadah Minggu GPI PAUK PRAJA IPDN JATINANGOR.

Oleh: Pdt.Judistian Pratama Hutauruk, S.Si.,Teol

Nas: Lukas 17:11-19.

 

Kesepuluh orang kusta

11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

12  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

13  dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"

14  Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

15  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

16  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17  Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

18  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

19  Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."


Peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta, bukan baru pertama kali, namun dalam Lukas 4 sudah pernah terjadi. 

Tradisi Yahudi, untuk menyatakan tahir dan tidaknya seseorang harus dicek oleh para imam. Imamlah yang berhak menyatakan orang itu tahir atau belum.

Jika di lihat dalam Imamat 14: 1-57 Berkaitan tentang “petunjuk dalam hal najis atau dalam hal tahir; itulah hukum tentang kusta." prosedurnya panjang dan rumit.

Orang yang sembuh belum tentu tahir.

Penyakit kusta itu najis.

Jadi saat orang yang menderita sakit kusta, bukan hanya sakit secara fisik, namun juga secara psikis dan mentalnya, mereka diasingkan, jauh dari pemukiman. 

“Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” (Im.13:45-46).

Mereka jauh dari jangkauan orang-orang, karena jika seseorang kena penyakit kusta, mereka dianggap sebagai seseorang yang menerima hukuman dari Tuhan akibat dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.

Kisah sepuluh orang kusta yang sembuh ini, ingin mengajarkan kepada kita, bahwa Yesus melakukan sebuah lompatan yang besar, bukan hanya menyembuhkan mereka dari sakit secara fisik, namun seluruh kehidupan. Kondisi mereka dipulihkan oleh Yesus. Mereka dipulihkan dari stigma-stigma, belenggu-belenggu yang menjerat mereka, keadaan mereka dipulihkan oleh Yesus.

Melewati peristiwa ini, juga Yesus ingin memberikan sebuah pelajaran tentang orang Samaria, yang dianggap kelas dua atau kelas tiga di mata orang Yahudi, karena mereka hasil kawin campur, tidak layak, orang kafir, mereka tidak murni orang Yahudi. Jadi orang Yahudi tidak diizinkan untuk berinteraksi dengan orang Samaria.

Yesus meruntuhkan semuanya itu, dengan mematahkan stigma-stigma yang lama. Yesus menyembuhkan orang, tidak peduli latar belakang, status sosial, ekonomi dll.

Yesus ingin memberikan sebuah pemahaman yang benar, sepuluh orang kusta itu sembuh, namun hanya satu orang yang kembali kepada Yesus dan mengucapsyukur kepada Dia. Yang datang berterima kasih kepada Yesus hanya satu orang, yakni orang Samaria.

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini? " (Luk.17:17-18).

Ini AKSI SOLIDARITAS SOSIAL YESUS.

Kepada orang Samaria, yang dipinggirkan, didiskriminasi, yang mendapat stigma, pengucilan. Namun justru YESUS MEMULIHAKAN..

INI PEMULIHAN TERHADAP KEHIDUPAN. Bukan hanya secara fisik saja yang disembuhkan oleh Yesus, namun semua aspek kehidupan.

Sebagai orang percaya, kita seharusnya meneladani Yesus, Dia teladan utama kita. Yesus berpihak kepada yang lemah, yang tidak dianggap, yang tidak diperhitungkan. Yesus menunjukan kasih kepada mereka yang lemah.

Karena kehidupan bukan hanya tentang saya dan Tuhan, tetapi saya dan sesama. Kalau kita MELIHAT KEPADA SALIB, BUKAN HANYA ATAS KE BAWAH, ATAU BAWAH KE ATAS (Vertikal), KE SAMPING KIRI KANAN (Horizontal). Artinya hubungan kita dengan sesama kita.

Sering kali kekeristenan, atau orang yang mengaku percaya, merasa puas jika dirinya sendiri yang masuk sorga, yang lain tidak diperhatikan. Semua berkeinginan masuk ke dalam sorga, tetapi SAAT DITANYA SIAPA YANG MAU DULU KE SORGA?? Tidak ada yang bersedia untuk pergi duluan.

Kehendak Tuhan KITA NYATAKAN DI DUNIA INI. Seperti doa Bapa kami yang kita ucapkan di setiap minggunya, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Mat.6:10).

Kehendak Bapa, supaya kita memiliki dan punya solidaritas ke luar, bukan hanya ke dalam, bukan hanya untuk diri kita sendiri. KITA SERINGKALI HANYA MEMINTA BERKAT, TETAPI TIDAK MEMINTA SUPAYA KITA MENJADI BERKAT UNTUK ORANG LAIN.

Ini panggilan gereja yang sulit dilakukan. Kita cendrung mengurus diri kita sendiri, supaya gereja saya maju, bekembang, tempat ibadah yang nyaman. Jarang kita memikirkan untuk menjadi berkat bagi orang di luar.

Kita sering menjadi terang di tempat yang terang, padahal itu tidak ada manfaatnya.

Kita sering kali menjadi garam di lautan, dan malah membuat keasinan.

Padahal kehidupan kita, dituntut untuk memberikan rasa, dan bercahaya di tempat yang gelap, yang benar-benar butuh penerangan dan cahaya.

Mari kita serius memikirkan hal ini.

Bagaimana menjadi berkat bagi institusi di mana kita ada saat ini, bukan hanya saat hari Minggu saja.

Hari ini, kita belajar dari kisah YESUS DAN KEBERPIHAKAN-NYA terhadap orang-orang yang lemah, kaum marginal, yang tidak diperhitungkan, dipinggirkan, dan tidak dianggap.

Mari kita mulai melihat seperti mata Yesus, melihat orang-orang yang tidak terlihat oleh mata. Karena Yesus mau sebuah pemulihan secara holistic dan menyeluruh. Yesus mau gereja menjadi berkat lebih luas lagi. Yesus sering diceritakan menyembuhkan. Yesus memulihkan orang lain. Yesus PEDULI dengan hidup orang lain..

Karena gereja bukan hanya berbicara tentang gedung secara fisik, namun tentang persekutuan, dan orang di dalamnya.

Mari kita menjadi gereja, bagi sesama kita.

Mari kita berpihak kepada orang yang lemah, seperti hati Yesus.

Mari kita hadir menjadi berkat. Aminn..


(Ditranskrip oleh Septo. Lembah Manglayang Jatinangor, Ibadah Minggu 09 Oktober 2022.)



Posting Komentar untuk "Khotbah Minggu 09 Oktober 2022"