Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Renungan Mazmur 55:22-23 Menyerahkan segala hal kepada Tuhan

 



(Menyerahkan segala hal kepada Tuhan)


"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau ! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah."

(Mazmur 55: 22-23)

Apakah yang kita lakukan ketika menghadapi sebuah permasalahan ?

Mungkin kita mengatakan bahwa kita cukup cerdas untuk menyelesaikan sebuah masalah. Yang lain mungkin berkata bahwa masih ada saudara yang akan menolong untuk keluar dari permasalahan itu.‎

Dalam hal ini, ‎jawaban yang selalu di berikan adalah berpusatkan kepada diri sendiri dan mengandalkan kekuatan orang lain,‎

Tetapi dalam segala hal, ‎kita harus berpedoman kepada Tuhan dan memohon pimpinan-Nya, ‎ agar di berikan kekuatan, dan tuntunan yang akan membawa kita kepada jalan keluar.

-Fikiran kita yang cerdas, 

-otot‎ kita yang kuat,  

 -saudara‎ kita yang kaya, ‎kelihatan adalah kekuatan yang patut di banggakan, ‎

padahal semuanya adalah lemah dan seringkali tidak dapat berbuat apa-apa.‎

Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan Maha Kuasa, ‎berarti Tuhan adalah kuat dan lebih daripada yang kuat, 

tetapi kenapa tidak mengandalkan Dia ?

Kenapa setelah masalah semakin rumit dan kelihatan tak ada jalan keluar, baru kita datang kepada-Nya ?

Mari kita menyerahkan segala hal keinginan kita kepada Tuhan,‎

Jangan melihat kekuatan sendiri dan orang lain di dalam menghadapi segala sesuatu,

tetapi mari untuk membiasakan diri melihat kekuatan Tuhan Yang Maha dahsyat, dengan selalu berdoa kepada-Nya.

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN ! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

(Yeremia17:7-8)

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

(1Tesalonika 5: 18)

Jika kita ingin mempunyai kehidupan yang bahagia,

maka jadilah pribadi apa adanya.

-Jangan malu dengan keadaan kita.

-Jangan merasa rendah diri bila kita  tidak punya apa-apa.

-Jangan merasa tidak berguna jika kita  mempunyai kekurangan.

Menghargai dan bersyukur atas apa yang kita miliki itu jauh lebih baik daripada orang-orang yang memaksakan dirinya agar mendapatkan pujian manusia.

Seseorang yang tampil dengan penuh kepalsuan sama halnya menyiksa dirinya sendiri.

-Untuk menjadi pribadi yang baik tidak harus kaya.

-Untuk menjadi pribadi yang bijaksana tidak perlu sombong.

Dengan segala keterbatasan yang kita  miliki,

kita masih tetap bisa menjadi berkat bagi sesama manusia.


(Menumbuhkan Iman)


Iman orang-orang percaya memang sering kali diuji.

Ujian itupun bermacam-macam bentuknya.

Bukan hanya kita diminta menunggu begitu lama, tetapi sering terjadi pula, apa yang kita harapkan justru menjauh dari harapan kita.

Berbagai rintangan, tantangan seringkali muncul silih berganti hingga seluruh energi kita terkuras habis.

Segala sesuatu menjadi nampak mustahil untuk kita lalui.

Namun saudara, ketahuilah bahwa saat-saat seperti itu.

Tuhan menyatakan Kuasa Nya.

Ibarat sebuah bejana yang diisi penuh hingga mengalir keluar dengan melimpah.

Dalam kelemahan kita itulah kuasa Tuhan yang sempurna dinyatakan bagi kita.

Saudara hati kita harus menjadi " tanah yang baik " agar Firman Tuhan dapat tumbuh dan berbuah lebat.

Firman Tuhan adalah kunci keberhasilan hidup kita.

Dengan meresapi dan melakukan tepat seperti yang dikatakan-Nya, maka janji-Nya akan menjadi nyata dalam hidup kita.


(Tuhanlah yang memampukan kita melakukan segala sesuatu)

Lihatlah isi sebutir telur ayam, ‎ walaupun bahannya seperti agar-agar tak berbentuk,   namun  di sana telah terkandung semua nutrisi yang di perlukan untuk menjadikannya seekor anak ayam dan memberinya makan, ‎sehingga cukup besar untuk menetas sendiri.

Kita tak dapat melihat tanda-tanda paruh, kaki, tulang, mata, atau pun bulu, namun ketika saatnya tiba, ‎anak ayam tersebut mematuk kulit telur yang membungkusnya, membuat lubang, dan mulai menetas,‎

Ajaib bukan...

Demikian pula, ‎ketika TUHAN telah menanam impian di dalam hati kita, berarti DIA telah mempersiapkan segalanya untuk membuat kita mampu Mewujudkannya.

Terkadang kita kurang menyadari  potensi yang kita miliki untuk meraih impian kita,‎ dan kita selalu memfokuskan diri pada apa yang tidak mampu kita lakukan,‎ sehingga kita melupakan apa saja yang boleh kita kerjakan.

Mulai sekarang, ‎ketika kita melihat seseorang yang sukses, teriakkan di dalam hati kecil kita, "Kalau dia bisa, saya juga pasti bisa..."‎

Ketika impian itu sudah ada di dalam hati kita, pasti akan terwujud, tinggal menunggu waktu, Percayalah...‎

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hati dan pikiran kita, maka DIA akan bertindak dalam hidup kita dengan dahsyat dan ajaib.

"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

(Filipi 4:19)



(Diam dan Tenang) 


"Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."

( Yesaya 30:15)

Setiapkali masalah datang dan  reaksi sebagian besar orang adalah 

-panik, 

-takut 

-dan kuatir.

Juga kita tidak dapat menahan ucapan, tidak dapat menjaga lidah kita untuk memperkatakan hal-hal yang negatif dan mengasihani diri sendiri,

padahal kita sudah diperingatkan,

"Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."

(Amsal 10:19);

ucapan atau perkataan yang tidak dijaga,

dapat membuat kita berdosa kepada Tuhan:

"Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang..."

(Mazmur 39:2).

Kualitas hidup seseorang yang sesungguhnya akan terlihat dari kemampuannya dalam menguasai diri salah satunya adalah menguasai ucapan.

Bagaimana sikap kita saat menghadapi masalah atau pergumulan yang berat ?  

Ada kata pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas.

Kata  'diam' 

yang dimaksudkan bukan bererti tidak mampu, masa bodoh atau menyerah pasrah,

tapi mengacu kepada suatu sikap kehati-hatian dalam berbicara atau pun bertindak.

Jika kita tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik adalah lebih baik kita berdiam diri.

Begitu pentingnya sikap berdiam diri sehingga orang bodoh pun...

"akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya."

(Amsal 17:28).

Ketika masalah datang menerpa hidup seringkali kita tidak dapat menahan ucapan: mengeluh, bersungut-sungut dan mengomel, seperti yang biasa dilakukan bangsa Israel saat berada di padang gurun: 

"Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini ? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir ? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."  

(Keluaran 14:11-12).

Kebanyakan dari kita tidak dapat tenang ketika permasalahan datang !

Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap tenang saat masalah datang menerpa:

"Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."

(1 Petrus 4:7b).

Berdiam diri dengan mendekat kepada Tuhan membuat kita menjadi tenang !


(Tidak ada kata terlambat)

 

~Tidak ada kata terlambat untuk menjadi apa yang kita  inginkan.

~Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi,

~Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan memohon ampun,

~memulai kebaikan,

~mengubah hidup diri sendiri,

dan untuk menjadi apa yang kita inginkan.

Jangan pernah ada kata terlambat,

karena pertolongan Tuhan selalu tepat waktu dan indah pada waktunya.

Seburuk apa pun kita di masa lalu.

Ingat....!!

kita masih bisa berubah untuk menjadi yang lebih baik.

Tidak ada kata terlambat.

Yang ada hanyalah alasan untuk tidak melakukannya.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah,

masa lalu hanyalah pendewasaan diri kita.

Hidup kita bukan  ditentukan oleh orang lain,

tapi diri kita  sendiri.

~Selalu  ada jalan,

~selalu ada cara,

dan tidak ada kata terlambat.

"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkan hatimu ? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemanapun engkau pergi."

(Yosua 1 : 9)

Kita sering merasa kecut dan tawar hati.

Tidak yakin akan masa depan kita dan jadi merasa malas untuk mengerjakan masa depan dengan sebaik mungkin.

Allah mengingatkan kita bahwa Ia akan selalu menyertai kita.

Bersama Allah, selalu ada harapan di dalam kehidupan kita.

Ada keberhasilan menanti kita seperti  yang tertulis dalam Alkitab.

Mari tetap rajin dan semangat dan setia patuh kepada-Nya.

Tidak ada kata  Terlambat untuk pemulihan..


Posting Komentar untuk "Renungan Mazmur 55:22-23 Menyerahkan segala hal kepada Tuhan"