Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Apa Yang Dimaksud Kemuridan dan Pemuridan

 



Apa yang Dimaksud 

Kemuridan?


Mengikut Yesus

    Jika saya berkata kepada Anda, “Ikutlah aku”, apa yang akan menjadi respons Anda?

Anda mungkin balik bertanya. “Memangnya kamu siapa hingga aku harus mengikuti kamu?”

        Nah, seandainya Anda sudah mengenal siapa sebenarnya saya, dan saya berkata kepada Anda, Ikutlah aku” Mungkin yang sekarang akan  Anda tanyakan adalah, “Memangnya kamu mau pergi ke mana?”

        Hebatnya, ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku” TIDAK SEORANG PUN dari antara murid-muridnya yang bertanya “Memangnya kamu siapa?” atau “Memangnya kamu mau ke mana?” 

        Mengapa? Pertama, karena mereka mengenal Yesus atau setidaknya telah mendengar tentang Dia Kedua, karena mereka memahami perkataan Yesus dalam konteks budaya pada zaman itu banyak orang meninggalkan rumah dan keluarganya selama beberapa waktu tertentu untuk berguru kepada seorang ahli atau seorang rabi ini adalah undangan pribadi yang diberikan Yesus kepada mereka untuk menjadi murid-Nya 

        Menjadi murid Yesus adalah suatu yang radikal karena merupakan sebuah undangan istimewa untuk memasuki sebuah kehidupan tertentu. Sebuah panggilan khusus untuk menjalankan suatu cara hidup tertentu. Yesus tidak memanggil mereka untuk sekadar jalan-jalan tanpa tujuan; atau pergi ke sebuah tempat tertentu. Yesus memanggil mereka bukan menuju sebuah lokasi geografis tetapi menuju sebuah perjalanan rohani; bukan menuju wilayah tertentu, tetapi menuju sebuah garis hidup tertentu.

  Jika “Ikutlah Aku” adalah panggilan yang panggilan untuk menjadi murid Kristus kemudian sederhananya adalah sebuah perjalanan rohani mengikut Yesus namun perjalanan rohani (yang juga merupakan suatu jalan hidup) ini ada harganya. 

Harga yang Harus dibayar Pengikut Yesus 

Memastikan para murid tidak salah mengerti Yesus mengulangi pengajaran-Nya yang radikal tentang Apa arti menjadi murid-Nya. Dia meminta mereka untuk mempertimbangkan baik-baik risiko menjadi murid-Nya.

        Dalam Lukas 14:25-35, Yesus menjelaskan apa artinya menjadi seorang murid secara radikal dan spesifik jika seseorang datang kepadaku dan tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki, atau perempuan, Bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (ayat 26 penekanan saya). 

        Tuhan kita lalu mengulanginya sekali lagi: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ayat 27 penekanan saya).

        Mendekati akhir penjelasannya, kembali Yesus menegaskan, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (ayat 33, penekanan saya).

        Bagian lain dalam firman Tuhan menyatakan hal serupa dan Lukas 9:57-62, Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya (atau murid-Nya) tuntutan ikuti Dia itu mahal harganya, sama seperti “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (ayat 62 penekanan saya).

        Selain itu Yesus secara khusus menetapkan standar yang tinggi ketika Dia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya; ia akan kehilangan nyawanya tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:23-24 ayat 23-24 penekanan saya).

         Kemuridan yang alkitabiah meliputi proses “mempertimbangkan risiko” dan kemauan untuk membayar harga Inilah yang disebut kemuridan radikal.


Kemuridan radikal

Kita tidak bisa sepenuhnya memahami apa artinya menjadi murid Kristus tanpa kesediaan menerima sisi radikal dari kemuridan. Kemuridan radikal berarti secara mutlak menempatkan Kristus sebagai Tuhan atas semua bidang kehidupan.

  Dalam bukunya Mere Discipleship: Radical Christianity in a Rebellious World, Lee Camp menulis:

Yesus dari nazaret selalu meminta para murid untuk mengikut Dia-- tidak hanya “menerima-Nya” tidak hanya “percaya kepada-Nya”, tidak hanya “menyembah-Nya”, tetapi juga menuruti-Nya. Hanya ada dua pilihan: mengikut Kristus, atau tidak mengikuti Dia. Tidak ada pengkotak-kotakkan Iman. Tidak ada bidang, tidak ada ruang, tidak ada urusan, tidak ada politik, yang boleh tidak tunduk pada Ketuhanan Kristus. Hanya ada dua kemungkinan: kita menjadikan Kristus sebagai Tuhan dari segala tuhan, atau kita sama sekali tidak mengakui-Nya sebagai Tuhan.


        Ketika Yesus mengutus para murid untuk menjadikan murid dengan amanat Agung-Nya (Matius 28:18-20), Dia tidak sedang berbicara tentang memenangkan orang untuk bertobat dan sekadar menjadi pengikut-Nya. Misi yang diberikan-Nya adalah untuk membentuk murid-murid yang berkomitmen sama seperti para murid mula-mula, orang-orang yang akan “menaati segala sesuatu” yang telah diperintahkan Yesus. Dengan pernyataan yang demikian, Yesus menetapkan standar kemuridan yang tinggi dan menunjukkan bahwa mathetes bukan hanya sekadar orang-orang yang suka belajar-- mereka adalah orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya untuk menaati Yesus.


Pahamilah kemuridan bukan sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai sebuah Kerinduan itulah yang disebut kemuridan radikal.


         Kemuridan radikal dimulai dengan mengikut Yesus; dan yang pertama-tama harus diingat mengikut Yesus di sini bukanlah sebuah tugas, tetapi sebuah hasrat hati.  Kemuridan radikal berakar pada kerinduan yang kuat akan Allah. 

        Kemuridan berbicara tentang hasrat hati. Betapa kita harus mengibarkan kembali Kerinduan dan semangat kita akan Allah! kutipan berikut mengungkapkan kenyataan yang ada dengan tepat: 

Kekristenan bermula di Palestina sebagai suatu Hasrat Hati bergerak ke Yunani menjadi sebuah Ilmu Filsafat tiba di Roma ia menjadi sebuah institusi sampai ke Eropa jadilah sebuah budaya kemudian masuklah ia ke Amerika dan menjadi sebuah bisnis besar.

         Tetapi kekristenan sebenarnya bermula di Palestina dari sebuah hasrat hati, kerinduan dan semangat yang besar akan Allah! 

        Pelipatgandaan rohani didorong oleh adanya Kerinduan dan semangat ini. Ada sesuatu yang menggerakkan, yang menggelorakan hati, yang hidup di dalam jiwa Gereja mula-mula ketika mereka memahami kemuridan dan bukan sebagai tugas tetapi sebagai suatu hasrat akan Allah. Bagi Gereja mula-mula, mengikut Yesus sepenuhnya adalah inti dari pemuridan.

        Hari ini, betapa kita sangat perlu mengeluarkan kembali kerinduan dan semangat itu serta menyelaraskan hidup kita dengan apa yang telah diajarkan Yesus. 

        Setelah itu kita harus melayani dengan cara yang sama untuk menghasilkan mathetes, para murid yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus, Sang Pemilik dan Tuhan atas hidup kita! inilah yang disebut kemuridan radikal.

         Untuk melakukannya, kita berupaya secara intensional menolong orang lain menjadi murid Kristus. Proses ini kita sebut sebagai proses menjadikan murid atau “pemuridan”.


Apa Yang Dimaksud 
Pemuridan?

Apa yang dimaksud dengan “pemuridan”? 

    Bagi komunitas yang berbeda, pemuridan bisa dipahami secara berbeda pula. Bagi sebagian orang, pemuridan itu berarti melakukan Pemahaman Alkitab bersama-sama. Bagi sebagian yang lain, pemuridan berarti membawa orang untuk dibaptis dan menjadi bagian dari sebuah Gereja. Bagi sebagian yang lain lagi pemberian adalah segala bentuk tindak lanjut untuk membina seorang Kristen baru, termasuk menolong orang ini memahami konsep-konsep tertentu. Misalnya saja dengan mengajarkan “lustrasi Lima Jari” (lima cara bertumbuh dalam firman Tuhan) atau “Ilustrasi Roda” (bagaimana bertumbuh sebagai seorang Kristen), dan sebagainya.  

Berikut ini definisi saya tentang “pemuridan”: 

Pemuridan adalah suatu proses membawa orang ke dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah, dan membina mereka menuju kedewasaan penuh di dalam Kristus melalui rencana pertumbuhan yang intensional, sehingga mereka juga mampu melipatgandakan keseluruhan proses ini kepada orang lain.

 Ada 4 Aspek penting dalam definisi ini:

1. Membawa orang ke dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah

Pemuridan yang alkitabiah dimulai dengan pemberitaan Injil yang bertanggungjawab. Kita perlu memberitakan Injil dengan memandang tujuan besar Allah, yaitu agar segala suku bangsa dapat menjadi murid Kristus. Para murid yang menjadikan murid haruslah memiliki belas kasihan yang besar bagi jiwa-jiwa yang tersesat, seperti belas kasihan yang dimiliki Yesus. Dia datang menyerahkan nyawa-Nya agar yang tersesat bisa memperoleh hidup. Yesus adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup –melalui-Nya, kita yang tersesat menemukan jalan untuk kembali kepada Allah. Pemuridan adalah proses membawa orang ke dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah melalui Kristus.


“Pertumbuhan 

rohani itu tidak otomatis”


2. Membina mereka menuju kedewasaan penuh di dalam Kristus.

Pada setiap tingkat pertumbuhan rohani, Allah ingin kita bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani adalah salah satu hal yang paling ditekankan dalam catatan Perjanjian Baru tentang memuridkan. Penginjilan yang bertanggung jawab berarti membawa jiwa-jiwa yang tersesat ke dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah melalui Kristus, dan menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman mereka yang baru. Inilah artinya “membangun tubuh Kristus dan memperlengkapi orang-orang Kudus” (Efesus 4:12). Menolong mereka yang menderita luka-luka batin juga termasuk proses ini.


3. Melalui rencana pertumbuhan yang intensional 

Pertumbuhan rohani itu tidak otomatis. Petobat baru dan setiap orang percaya tidak dapat bertumbuh dengan sendirinya. Perlu ada upaya intensional untuk membina petobat baru. Perlu ada rencana pertumbuhan yang intensional agar setiap orang percaya dapat dibangun hidupnya sebagai seorang murid Kristus yang autentik. Sebuah kurikulum inti yang Akita dia harus dikembangkan untuk mewujudkan orang dalam berbagai tingkat pertumbuhan. Perlu ada bahan-bahan yang dapat menolong setiap orang bertumbuh. 

4. Sehingga mereka juga mampu melipatgandakan keseluruhan proses ini kepada orang lain.

Pemuridan berarti memberikan pengaruh yang lebih besar pada dunia di sekitar kita dengan cara melipatgandakan orang dengan kualitas tertentu. Sebab itulah, salah satu penekanan utama dalam pemuridan adalah pelipatgandaan rohani. Tidak ada kesuksesan yang bertahan tanpa adanya generasi penerus. Jika saya ingin menilai seberapa baik saya telah memuridkan, saya harus mengharapkan buah-buah rohani, tidak hanya di dalam diri orang-orang yang saya bombing, tetapi juga dalam kehidupan orang-orang yang mereka bombing. Itulah yang disebut pelipatgandaan rohani.


Pemuridan dan Mentoring 

Sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya adalah: “Apakah ada bedanya mentoring dengan pemuridan?”

Jawaban saya: “Ya” dan “Tidak”.

        Ada kata-kata tertentu yang memiliki irisan makna sekaligus perbedaan nuansa. “Pemuridan” dan “Mentoring” adalah dua kata yang demikian.

        Kedua kata ini sering digunakan sebagai sinonim atau sama lain, seperti yang Anda jumpai dalam buku ini. Jika butuh dibedakan, saya akan memakai kata “pemuridan” pada proses pertobatan serta pembinaan dasar, dan memakai kata “mentoring” pada proses membangun kepemimpinan Kristen melalui upaya memperlengkapi orang dengan keterampilan dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari. Jadi, dalam kata “mentoring” ada unsur melatih keterampilan praktis.

        Namun, meskipun “mentoring” dapat berarti “melatih” (coaching) dalam konteks tertentu, bagi saya, mentoring itu lebih dari sekadar melatih orang. Fokus pelatihan adalah mengasah keterampilan tertentu. Dalam mentoring, kita tidak hanya membagikan keterampilan, tetapi juga pelajaran-pelajaran dalam kehidupan. Sebab itu, secara sederhana, saya mendefinisikan mentoring sebagai proses mengarungi “perjalanan rohani Bersama”.

        Izinkan saya untuk mengatakan kebenaran dalam kasih. Saya tahu definisi itu penting. Karena itulah bagian pertama buku ini ditulis untuk menjelaskan istilah-istilah yang kami gunakan. Tetapi, jika ada orang yang memperdebatkan perbedaan-perbedaan kecil dalam bukunya berupaya menyelesaikan tugas pemerintahan ini, saya merasa mereka tidak memahami pemerintahan sama sekali! Mari kita mengutamakan apa yang benar-benar penting.

        Ada orang-orang yang sangat suka mendiskusikan perbedaan (yang mereka bahas misalnya Apakah setiap orang yang sudah percaya kepada Kristus dapat disebut seorang sebagai seorang ”murid”, ataukah hanya mereka yang benar-benar menunjukkan komitmen sebagai pengikut-Nya? Apa bedanya “pemuridan” dan “mentoring”? dan sebagainya). Namun, sayangnya banyak orang yang demikian justru belum pernah benar-benar menjadi murid dan memuridkan orang lain. Amanat untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus tidak akan pernah selesai hanya dengan sibuk berdiskusi. 

        Inilah waktu bagi kita untuk mengerjakan apa yang telah kita diskusikan. 


(Edmund Chan, Buku A CERTAN KIND {YANG TERTENTU} Pemuridan Intensional yang Mengubah Definisi Sukses dalam Pelayanan. BAGIAN SATU: MENJELASKAN ISTILAH KAMI. Halaman 51-61).


Posting Komentar untuk "Apa Yang Dimaksud Kemuridan dan Pemuridan"