Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Tahun 2023 apakah Kamu Siap?

 


APA YANG KAUTAKUTKAN?

Bacaan: Yohanes 6:16-21


NATS: [Yesus] berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" (Yohanes 6:20)


Salah satu dongeng karya Grimm mengisahkan seorang pemuda agak bodoh yang tak tahu artinya gemetar ketakutan. Orang-orang berusaha membuatnya takut dengan menempatkannya di berbagai situasi menyeramkan, tetapi sia-sia. Akhirnya pemuda itu dapat merasa gemetar, tetapi bukan karena takut. Ia gemetar ketika seseorang menuangkan seember air dingin lengkap dengan ikan menggelepar-gelepar ke atas tubuhnya sewaktu ia tidur.


Ada yang tidak beres dalam diri kita jika kita tidak pernah takut. Takut adalah reaksi wajar manusia terhadap segala macam kesulitan atau bahaya, dan Allah tidak mengutuknya. Namun, Allah juga tak ingin kita dilumpuhkan ketakutan. Yesus berkali-kali berkata kepada murid-murid-Nya, "Jangan takut" (Lukas 5:10; 12:4; Yohanes 6:20). Setiap kali mengatakannya, Yesus menggunakan bentuk kata kerja yang mengandung arti keberlanjutan. Dengan kata lain, Yesus berkata kepada mereka, "Jangan terus-menerus merasa takut."


Jangan sampai kita ditaklukkan oleh ketakutan kita. Kita juga jangan sampai menolak melakukan apa yang dikehendaki Allah hanya karena merasa takut. Allah dapat mengubah rasa takut kita menjadi kekuatan. Kita dapat mempercayai Allah dan menjadi "tidak takut" (Mazmur 56:12).


Keberanian bukan tiadanya ketakutan, melainkan penguasaan atas rasa takut. Jadi, mari kita lawan ketakutan kita dan hadapilah dengan iman kepada Tuhan, karena Dia telah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5) --David Roper


KITA MAMPU MENGHADAPI KETAKUTAN TERHADAP APA PUN

APABILA KITA TAHU BAHWA TUHAN DI DEKAT KITA


PENDERITAAN DI SALIB

Bacaan: Yesaya 53

NATS:
[Yesus] telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).


Sebagai orang kristiani, kita pasti memahami makna rohani pengurbananKristus di bukit Kalvari. Namun, kita dapat dengan mudah melupakan penderitaan hebat yang ditanggung Kristus di sana. Hal yang paling buruk pada peristiwa itu adalah keterpisahan-Nya dengan Bapa. Namun, penderitaan jasmani yang dialami-Nya pun sangat mengenaskan, di luar akal manusia.


Dalam bukunya Dare To Believe, Dan Baumann membagikan beberapa pemikiran yang dapat memperdalam syukur kita terhadap tindakan Juruselamat bagi kita. “Kita mungkin pernah secara tidak bijaksana, atau kadang tidak sadar, telah membuat salib menjadi barang mewah. Berbagai perhiasan dan menara salib memang indah dan menarik, tetapi tidak menampakkan makna penyaliban yang sebenarnya. Penyaliban adalah metode hukuman mati yang terberat pada abad pertama. Sang terhukum disandarkan pada kayu salib. Paku ... ditancapkan pada kedua tangan dan kaki sang terhukum, kemudian salib itu ditegakkan dan dipancangkan ke tanah. Itu membuat daging orang yang disalib terkoyak dan menyiksanya dengan rasa sakit yang amat mengerikan. Para sejarawan mengingatkan bahwa para prajurit yang melakukan penyaliban pun ngeri dengan penyaliban itu, sehingga mereka sering menenggak minuman keras untuk mematikan perasaan mereka.”


Dengan ingatan yang jelas akan penderitaan jasmani Sang Juruselamat, marilah kita mengucap syukur kembali atas pengurbanan-Nya di Kalvari. Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela mati bagi kita--sekalipun kematian-Nya di kayu salib mengerikan --Richard De Haan



PENGORBANAN KITA TIDAK PERNAH CUKUP

BAGI DIA YANG MENGURBANKAN SEGALA MILIK-NYA UNTUK KITA


๐Ÿ’— MARILAH KITA SALING MENGASIHI.๐Ÿ’—


Baca : 1 Yoh. 4:7

"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah;  dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah."  1 Yohanes 4:7


Walaupun kasih merupakan suatu aspek dari buah Roh (Gal 5:22-23) dan bukti kelahiran baru (1Yoh 2:29; 3:9-10; 5:1), kasih juga adalah sesuatu yang harus kita kembangkan. 


Oleh karena itu, Yohanes menasihati kita untuk saling mengasihi, memperhatikan sesama kita dan berusaha memajukan kesejahteraan mereka. Yohanes tidak berbicara mengenai itikad baik, tetapi mengenai keputusan dan sikap untuk menolong orang lain (1Yoh 3:16-18; bd. Luk 6:31). 


Yohanes mendorong kita untuk memperlihatkan kasih karena tiga alasan:

1) Kasih adalah sifat Allah sendiri (ayat 1Yoh 4:7-9), yang dinyatakan dengan mengaruniakan Anak-Nya kepada kita (ayat 1Yoh 4:9,10). Kita mengambil bagian dalam sifat-Nya karena kita lahir dari Dia (ayat 1Yoh 4:7).


2) Bukti Iman

Oleh sebab Allah mengasihi kita, maka Bukti iman kita yang sudah mengalami kasih, pengampunan, dan pertolongan-Nya wajib menolong orang lain, meskipun untuk itu kita harus berkorban secara pribadi.


3) Siap Disempurnkan Allah

Jikalau kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita dan kasih-Nya disempurnakan di dalam kita (ayat 1Yoh 4:12).


4) Tinggal dalam Kebenaran dan Tidak dihukum Allah

Jikalau Sungguh sungguh mengasihi kita tetap di dalam Kristus, bersekutu dengan Bapa (1Yoh 1:3), berusaha untuk menaati perintah-Nya (1Yoh 2:3), tetap terpisah dari dunia (1Yoh 2:15-17), tetap tinggal di dalam kebenaran (1Yoh 2:24), dan mengasihi orang lain (ayat 1Yoh 4:7-12), maka kita dapat memiliki keyakinan bahwa kita tidak akan dihukum pada hari penghakiman (ayat 1Yoh 4:17-18)


YESUS ADALAH TUHAN YANG MENGASIHI MU


Yesus adalah Tuhan yang mengasihimu dengan luar biasa. Sejak dari dalam kandungan hingga saat ini, Dia menjaga dan memeliharamu. Mungkin kamu melupakannya, kamu sibuk dengan sekolah, pekerjaan ataupun usahamu. Namun Tuhan, tidak pernah melupakanmu. Ia tetap memberkati seluruh aspek kehidupanmu.


Apa yang kamu perlu, Tuhan beri. Apa yang menjadi susahmu, Tuhan buka jalan. Apa yang menjadi sedihmu, Tuhan hiburkan. Apapun itu yang membuat hatimu tak damai sejahtera, Tuhan lenyapkan. Ia akan menyejukkan hatimu, menyembuhkanmu, memulihkanmu, membuatmu tenang di tengah kondisi yang sulit.


"Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah."

(Yeremia yang 33:6)



PELAKU FIRMAN: Pahlawan-Pahlawan Perkasa

Baca:  Mazmur 103:1-2

"Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya." Mazmur 103:20


Hari ini, 10 November, adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena kita memperingati peristiwa sejarah perang antara tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya.  

      Ini merupakan perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan menjadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  'pahlawan'  memiliki arti:  seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.  Rasul Paulus menyatakan bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang dihadapkan dengan peperangan.  


Dunia adalah medan peperangan bagi orang percaya!  Ada pun peperangan orang percaya itu bukanlah melawan musuh yang terlihat secara kasat mata, tapi melawan si Iblis beserta pasukannya  (Efesus 6:12).  

Dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu melawannya, karena itu  "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;"  (Efesus 6:11).  


Sebagai prajurit-prajurit Kristus kita harus selalu bersiap diri dan jangan pernah lengah, sebab Iblis tak pernah berhenti untuk mencari celah.  Jika kita lengah dan tak berjaga-jaga maka kita akan menjadi sasaran empuknya.


Mengenakan seluruh perlengkapn senjata Tuhan adalah berikatpinggakan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan memberitakan Injil, berperisai iman, berketopong keselamatan dan berpedang Roh  (firman Tuhan).  Kesemuanya berbicara tentang ketaatan melakukan kehendak Tuhan!  


Pemazmur menyebutkan bahwa orang yang taat melakukan kehendak Tuhan bagai pahlawan-pahlawan perkasa  (ayat nas)!  Tanpa ketaatan rasanya sulit bagi kita untuk bisa menang dalam peperangan rohani!


Ingaat !!!

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  Mazmur 20:7


KITA TAK BERHAK MENGHAKIMI ORANG LAIN!

Baca:  Roma 2:1-16


"Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama." Roma 2:1


Orang yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain atau menghakimi orang lain, tak menyadari bahwa sesungguhnya ketika ia sedang menunjuk, hanya satu jari saja yang tertuju kepada orang lain, tapi empat jari lainnya menunjuk kepada dirinya sendiri.  

    Siapakah kita ini sehingga kita berlaku seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis kepada orang lain?  Sebelum kita menghakimi orang lain, sebaiknya kita memeriksa diri sendiri terlebih dahulu:  apakah kita ini sudah bersih dari kesalahan?  Apakah kita ini sudah sempurna, tanpa cacat cela?  Tidakkah kita malu pada diri sendiri, bila kesalahan yang kita perbuat ternyata jauh lebih besar dari orang yang sedang kita hakimi?  

      Karena itu Tuhan memperingatkan,  "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Matius 7:1-2).


     Saat ini kita sedang hidup di zaman yang benar-benar mendekati akhir, di mana manusia cenderung mencintai dirinya sendiri:  menjadi pemfitnah, tidak peduli agama, tidak tahu mengasihi, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang dan suka berkhianat  (2 Timotius 3:1-4).  

     Orang mudah sekali terprovokasi, mudah menuduh atau menyalahkan orang lain;  terbiasa mencari-cari kelemahan dan kekurangan orang lain;  mudah sekali berkomentar, menghujat, menghina, memojokkan, merendahkan, membuka aib, mengorek-orek masa lalu orang lain dengan komentar atau cuitan-cuitan di media sosial.  Kita seringkali berlaku seolah-olah menjadi orang yang paling benar, paling suci, tiada tandingannya.  Kita bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat  (Yakobus 2:4).


     Firman Tuhan menegaskan,  "Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?"  (Yakobus 4:12). Apa yang ditabur pasti akan dituainya


Ingaat !!!

Kita tak luput dari kesalahan dan dosa, karena itu berhentilah menghakimi orang lain!


JANGAN GAMPANG MARAH

Baca:  Mazmur 37:8-15

"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." Mazmur 37:8


Telinga kita pasti tak asing dengan ayat firman Tuhan ini:  "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."  (Amsal 17:22)  dan  "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."  (Amsal 15:13).  


Jelas sekali bahwa hati yang gembira adalah obat terbaik, sedangkan emosi atau amarah yang meluap-luap justru dapat mendatangkan sakit-penyakit.  Karena itu buanglah semua rasa geram dan amarah yang berkepanjangan.

     

Berbagai penelitian menyatakan adanya hubungan antara perilaku temperamental seseorang dengan tingginya kasus penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke dan sebagainya.  Penelitian menunjukkan pula bahwa amarah memengaruhi proses penyembuhan suatu penyakit bahkan menjadi sumber Penyakit itu sendiri.  


Orang yang bermasalah dalam hal mengontrol emosi atau kemarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit yang diderita, dibandingkan mereka yang sebaliknya.  


Alkitab memang tidak menyebutkan bahwa marah itu dosa, tapi yang harus diingat adalah kemarahan cenderung membawa seseorang kepada tindakan-tindakan yang tak terkendali yang bisa menyakiti dan melukai orang lain, sehingga dapat menyebabkan pertikaian dan merusak sebuah hubungan.

     Kemarahan seringkali dijadikan celah oleh Iblis untuk menabur benih kejahatan.  Bukankah ada banyak tindak kejahatan terjadi bermula dari seseorang yang tersulut amarah?  


Daud menasihati,  "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam."  (Mazmur 4:5).  Bahkan Pengkhotbah menyebut seorang pemarah sebagai orang bodoh.  "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh."  (Pengkhotbah 7:9).  


Tidak mau disebut orang bodoh?  Jangan mudah marah.  Orang yang bijak pasti dapat menahan kemarahannya.  "Akal budi membuat seseorang panjang sabar..."  (Amsal 19:11).


Ingaaat !!!!

"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." Efesus 4:26-27.


PEKERJAAN YANG MENJEMUKAN, TAPI TERLIHAT SEPERTI PEKERJAAN YANG MALAS


Seorang Pendeta -

Tidak ada yang tahu :

Apa yang ia dengar,

Apa yang ia lihat,

Rahasia yang harus ia simpan,

Godaan yang ia hadapi,

Air mata yang terurai,

Kesedihan yang ia alami,

Kesepian yang ia kelola,

Kepahitan yang ia rasakan,

Tingkat kebohongan yang dialamatkan kepadanya oleh beberapa orang yang ia layani!

Bagaimana ia merangkul orang-orang yang berpura-pura mencintainya, tetapi di belakang menghancurkannya.

Bagaimana ia mencoba untuk hidup lebih dari sekedar manusia biasa,

Kekurangan yang ia derita,

Diskriminasi yang tak boleh ia reaksi,

Tuduhan yang tak boleh ia bantah,

Harapan yang berusaha ia atasi,

Bahkan sesama Pendeta tak tahu apa yang dialami oleh Pendeta lain.

Ia hidup untuk Tuhan, namun ia hidup untuk kita!

Seorang Pendeta & Kependetaan adalah hal yang tidak seorang pun dapat sepenuhnya pahami atau mengerti!

Kependetaan adalah "Sebuah Misteri"!

Pendeta juga merupakan misteri!

Misteri adalah kejelasan yang tidak dapat dipahami!

Jadi, yang bisa Anda lakukan untuknya adalah berdoa untuknya.

Tak ada hari yang boleh terlewatkan tanpa dukungan untuknya!

Doakan dia baik-baik saja, & berusahalah untuk memahaminya!

Setidaknya buat dia bahagia,

Karena Pendeta yang tidak bahagia adalah bencana bagi Gereja Tuhan!

Hormati Pendetamu........

Doakan Pendetamu.........

Dukung Pendetamu.....

Rayakan Pendetamu......

Berhentilah menghakimi Pendeta karena apa yang engkau dengar atau lihat...

Tuhan memberkatimu saat engkau menghormati dan merayakan Pendetamu sekarang.


Happy Pastor Day.


JANGAN SIMPAN DENDAM DAN SAKIT HATI

Baca:  Ayub 5:1-16

"Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati." Ayub 5:2


Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Psychological Science  (Harian Kompas, 19 September 2014)  menyatakan bahwa menyimpan rasa dendam dan sakit hati itu berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik seseorang.  


Selain dapat meningkatkan rasa cemas, stres dan frustasi, rasa dendam dan sakit hati yang dipendam selama bertahun-tahun dapat menyebabkan orang beresiko terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri lambung, sakit kepala dan bahkan kanker!


     Mungkin Saudara sedang disakiti oleh orang lain dan sampai sekarang masih sulit untuk memaafkan... menyimpan dendam dan sakit hati sama sekali tidak mendatangkan faedah, justru akan berdampak buruk.  


Masih banyak orang Kristen yang menjalani hidup kekristenannya dengan belenggu dendam dan sakit hati, meski secara kasat mata mereka tampak rajin beribadah dan bahkan sudah melayani Tuhan.  Meski sudah tak terhitung banyaknya mereka mendengar khotbah tentang pentingnya mengampuni, tapi dalam prakteknya tetap saja sulit untuk melakukan.  


Bagi orang percaya, mengampuni adalah perintah Tuhan yang harus ditaati dan tak bisa ditawar-tawar lagi.  Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus bisa mengampuni kesalahan orang lain.  


Ingatlah Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengampuni kesalahan-kesalahan kita, bahkan  "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:12).

Tuhan dapat memakai apa saja di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membentuk dan mendewasakan kita, termasuk memakai orang-orang sekitar untuk menyempurnakan kita sesuai kehendak-Nya.  Ada tertulis: 

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."  (Amsal 27:17).

  

Seperti yang dialami oleh Yusuf, yang dilukai dan disakiti oleh saudara-saudaranya, ia tidak membiarkan rasa dendam dan sakit hati itu bersarang di hatinya.  


Yusuf tetap dapat melihat kebaikan di balik penderitaan yang dialami:  "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."  (Kejadian 50:20).


Ingaat !!!!

Menyimpan dendam dan sakit hati adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri!


BIJAKLAH TERHADAP UANG

Baca:  Lukas 16:10-15


"Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?"  Lukas 16:11


Ada banyak sekali ayat-ayat di Alkitab yang berbicara mengenai uang atau kepemilikan.  Hal ini menunjukkan bahwa uang merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia.  Bagaimana kita bersikap terhadap uang akan sangat menentukan kualitas kerohanian kita, alias menentukan hubungan kita dengan Tuhan.  Karena itu firman Tuhan tak henti-hentinya memperingatkan agar kita berlaku bijak terhadap uang.


     Ketika kita dipercaya Tuhan dengan keuangan, entah itu berupa gaji, uang saku, atau pendapatan yang lain, maka kita harus dapat pertanggungjawabkannya dengan baik.  Kita harus mampu menguasai uang, bukan uang yang menguasai kita, sebab uang adalah hamba yang baik, namun bisa juga menjadi tuan yang sangat jahat. 


 Berapa pun nilai rupiah yang kita miliki hari ini adalah sebuah kepercayaan dari Tuhan dan Ia ingin kita setia dengan apa yang sudah dipercayakan.  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."  (Lukas 16:10).  


Hal mendasar untuk kita setia dalam keuangan yang dipercayakan Tuhan adalah perpuluhan  (baca  Maleakhi 3:10).  Namun perpuluhan saja tidak cukup, sebab masih ada 90% lagi yang juga perlu untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.


     Banyak orang Kristen mengalami permasalahan yang teramat rumit dalam hal keuangan oleh karena mereka tidak bisa mengelola keuangan secara bijak. 


 Satu prinsip bijak yang harus diterapkan dalam mengelola keuangan adalah jangan  'besar pasak daripada tiang'.  Adalah petaka besar jika pengeluaran kita lebih besar dari pendapatan yang kita peroleh.  Karena itu perhatikanlah kebiasaan atau gaya hidup Saudara!  Kita harus bisa membedakan mana itu kebutuhan dan mana itu keinginan.  


Berusahalah sedapat mungkin menyisihkan uang untuk ditabung, meski dalam jumlah sedikit.  "Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya."  (Amsal 13:11).  


Dan bila kita memiliki berkat lebih, jangan lupa untuk menabur.  "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum."  (Amsal 11:25).


Ingaat!!!!

Bijak mengelola uang adalah langkah menuju kepada hidup yang diberkati !!!


๐Ÿ’— BATIN YANG SELALU DIPERBAHARUI ๐Ÿ’—


Baca:  2 Korintus 4:16-18

"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari."  2 Korintus 4:16


Menjadi tua, yang secara otomatis disertai dengan kemerosotan secara fisik  (lahiriah), tak bisa dihindari oleh siapa pun, namun yang terpenting adalah bagaimana menjadi tua yang sehat, mandiri dan berkualitas, yaitu mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.  

     Tak bisa disangkal oleh siapa pun bahwa tubuh jasmaniah manusia semakin hari semakin berkurang kekuatannya;  semakin bertambah usia, manusia lahiriah semakin merosot.  Ada orang-orang tertentu yang stres berat dan menjadi tawar hati karena takut menjadi tua sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memperlambat penuaan:  melakukan operasi plastik atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu.  


Sebagai orang percaya tidak perlu kita takut menjadi tua, tetapi milikilah prinsip seperti rasul Paulus:  meski manusia lahiriahnya merosot namun batin manusia batiniahnya dibaharui dari sehari ke sehari.  

Siapa yang memperbaharui manusia batiniah kita?  


Pembaharuan manusia batiniah adalah pekerjaan Roh Kudus karena Ia tinggal dan memenuhi hati setiap orang percaya.  

   Alkitab menyatakan bahwa pembaharuan manusia batiniah terjadi  "...karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,"  (Titus 3:5b).  Jelas dikatakan bahwa proses  'kelahiran baru'  dan proses  'pembaharuan batiniah'  dalam diri orang percaya dikerjakan oleh Oknum yang sama yaitu Roh Kudus.  


Rasul Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus,  "...supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,"  (Efesus 3:16).


     Dalam kekristenan tidak ada istilah berhenti berproses,  "...sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,"  (Efesus 4:13).  


Ingaaat & Kerjakan !!!!

Persekutuan yang karib dengan Roh Kudus setiap hari akan membuat manusia batiniah kita semakin hari semakin diperbaharui...


๐Ÿงš‍♂️  TINGGALKAN  PIKIRAN  

YANG  MEMBUATMU   LEMAH  ๐Ÿงš‍♂️


Terkadang kelemahan itu tidak datang dari luar, justru kelemahan itu berasal dari diri kita sendiri. Ada begitu banyak hal yang kita cemaskan. Kita begitu kuatir akan masa depan, padahal apa yang yang kita kuatirkan belum tentu terjadi. Pikiran-pikiran negatif itulah yang membuat kita lemah.


Kita boleh kuatir tapi janganlah berlebihan. Kuatirlah secukupnya dan selebihnya berserah untuk percaya kepada Tuhan. Peganglah janji Tuhan bahwa Dia yang akan selalu menjaga dan memelihara kita. Jangan sibuk kuatir, melainkan sibukkan hati dan pikiran untuk percaya pada mujizat-Nya.


Filipi 4:6

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.



SELALU ADA WAKTU UNTUK BERTOBAT

Baca Yesaya 21:11-12


Allah itu adil, Dia dengan tegas akan menghukum orang yang melakukan segala bentuk dosa. Allah tidak pernah kompromi dengan dosa. Namun, Allah juga berlimpah dengan kasih karunia. Dia selalu mengampuni dan memberi kesempatan kepada siapa pun yang mau berbalik kepada-Nya.


Firman Allah hari ini menceritakan tentang malapetaka yang dialami oleh Duma, yaitu nama lain dari Edom yang selalu bermusuhan dengan Israel. Dikisahkan, orang Edom bertanya kepada sang pengawal (Yesaya) kapan malam akan berlalu (ayat 11). 

 Malam adalah simbol kegelapan yang mereka alami akibat penghukuman Allah.


Yesaya menjawab bahwa pagi akan datang dan malam juga akan tiba (ayat 12). 


Pagi merupakan simbol sinar pengharapan dari Allah, sedangkan malam berarti penghukuman dari Allah. Hal itu menunjukkan bahwa penghukuman dan anugerah dari Allah bisa terjadi bersamaan. Dengan demikian, pilihan dan respons Edom akan menentukan anugerah atau penghukuman dari Allah.


Jawaban sang pengawal terhadap seruan orang Edom menunjukkan besarnya kasih karunia Allah kepada setiap orang. Meskipun Allah tidak kompromi terhadap dosa, namun tidak selamanya Dia murka. Asalkan Edom mau bertobat dan berbalik, maka Allah akan mengampuni dan mengasihinya (bdk. Mzm. 103:6-14). Jika memilih fajar pagi, Edom harus mencari Allah, beriman, menyembah-Nya, dan tidak lagi hidup dalam dosa.


Firman Allah tersebut juga berlaku bagi kita. Alkitab sudah memaparkan betapa mengerikannya malam, yaitu penghukuman Allah karena kegelapan dosa. Sebab ketika Allah telah menumpahkan penghukuman, maka tidak ada yang dapat luput. Namun di sisi lain, ada fajar pagi yang penuh kasih karunia, kebahagiaan, dan pengharapan baru.


Oleh karena itu, marilah kita memilih fajar pagi, yaitu kesempatan bertobat di hadapan Allah.


 Marilah kita mencari Allah dan bergantung penuh kepada-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. 


Ingaat!!!

Tangan Allah yang penuh kasih pasti dan selalu terbuka menerima kita bagi yang sungguh sungguh bertobat kepadaNYA



HIDUP BENAR, TAPI MASIH MENDERITA

Baca:  Mazmur 73:1-28


"Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  Mazmur 73:13-14


Tidak selamanya penderitaan yang kita alami disebabkan oleh serangan si jahat  (Iblis);  tidak semua pula akibat dari kesalahan atau dosa yang kita perbuat.  

      Saat kita mengalami penderitaan bukan berarti Tuhan tidak sanggup menolong kita dan melakukan mujizat-Nya.  Terkadang saat kita sedang berjuang untuk hidup dalam kebenaran, penderitaan pun serasa enggan beranjak dari kehidupan kita.  

        Ternyata tidak selamanya hidup benar mendatangkan kenyamanan atau berkat.  Akhirnya timbul pertanyaan dalam hati, sama seperti yang dipergumulkan oleh bani Asaf  (ayat nas):  "Mengapa kita sudah hidup dalam kebenaran tetapi justru yang kita lihat dan alami adalah situasi sulit, tekanan dan penderitaan?"  Bagaimana sikap hati kita jika hal ini terjadi?  Apakah kita harus kecewa kepada Tuhan, marah, menyalahkan Tuhan, kemudian memberontak kepada Tuhan?


     Bagaimana pun juga keadaannya, kita harus selalu mengoreksi diri!  Sudahkah kita benar-benar hidup dalam kebenaran?  Kalau kita dipercaya Tuhan untuk suatu pelayanan, sudahkah kita melayani Tuhan dengan benar?  Dengan kata lain pertobatan harus kita lakukan setiap hari,  +"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."_  (Matius 3:8).  

      Mari belajar dari pemazmur yang selalu berdoa memohon kepada Tuhan untuk selalu dikoreksi, diuji, diselediki:  "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku."  (Mazmur 26:2).  Kalau tidak, kita akan mengalami seperti bangsa Israel yang harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun oleh karena mereka mengeraskan hati  (tegar tengkuk), tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, tak mau bertobat.


     Bila kita sudah hidup dalam pertobatan namun penderitaan masih harus kita alami, berarti kita sedang dalam proses ujian kesetiaan, sebab untuk setia di tengah penderitaan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.  Tapi ketika dalam penderitaan Tuhan mendapati kita tetap setia, percayalah, bahwa ada upah yang Tuhan telah persiapkan untuk kita.


Ingaaat !!!!

Tetaplah berlaku hidup benar walau dalam penderitaan, karena di balik penderitaan ada kemuliaan!


๐Ÿ™ ESENSI BERBAKTI KEPADA TUHAN ๐Ÿ™


Baca:  Roma 11:25-36


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"  Roma 11:36


Banyak orang Kristen memiliki pengertian yang salah ketika mereka mendengar kata berbakti kepada Tuhan.  Mereka selalu menyimpulkan bahwa berbakti kepada Tuhan berarti selalu berkaitan dengan kegiatan-kegiatan rohani di rumah ibadah atau terlibat dalam pelayanan yang dilakukan di lingkungan gereja. 


 Padahal berbakti kepada Tuhan bukan hanya berbicara mengenai aktivitas ibadah atau pelayanan yang dilakukan secara rutin di gereja, tetapi meliputi seluruh keberadaan hidup kita, meliputi seluruh gerak hidup kita sehari-hari.  


Jadi jam berbakti kepada Tuhan bukan hanya 2 jam di dalam gedung gereja, tetapi selama 24 jam waktu yang kita miliki adalah untuk berbakti kepada Tuhan.  Inilah yang dimaksud berbakti kepada Tuhan.  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).   Berbakti,


 Dalam bahasa Yunani: ฮปฮฑฯ„ฯฮตฮนฮฑ - latreia berarti 'pengabdian', dan kalau dipakai dalam hubungan dengan dewa-dewa bermakna "ibadah' (penyembahan). "Ibadah" dalam arti seluas itu juga dimiliki istilah Ibrani yang dalam Perjanjian Lama (PL) berbahasa Yunani diterjemahkan dengan latreia, yaitu ืขֲื‘ֹื“ָื” - “รคbodah”.


 Disamping itu kita juga bertemu dengan kata (proskuneo ;bahasa Yunani) yang berarti sujud atau membungkuk atau meniarap dihadapan tuannya berarti: )  tunduk dan hormat, perbuatan yang menyatakan setia  (kasih, hormat, tunduk).  


Berbakti kepada Tuhan adalah sebuah keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat pengabdian hidup atau sasaran hidup,  "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:"  (ayat nas).  Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup ini  (dalam profesi apa pun)  hendaknya menjadi ladang memraktekkan nilai-nilai firman Tuhan atau menjadi pelaku firman Tuhan.  


Jadi tempat untuk kita berbakti kepada Tuhan bukan hanya di dalam gedung gereja saja, tetapi di mana pun kita berada  (di rumah, di kantor, di toko, di sekolah, di kampus). 


 Tetapi sering dijumpai banyak orang Kristen yang tampak berbakti kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh saat berada di gereja, tetapi begitu berada di luar gereja, bahkan masih di area parkiran gereja, mereka sudah tidak lagi berperilaku sebagai orang yang berbakti kepada Tuhan;  tabiat lama kembali muncul.


     Ini menunjukkan bahwa ibadah mereka kepada Tuhan tidak lebih dari ritual atau upacara agamawi semata, terbukti dari karakter hidupnya yang tidak berubah.


INGAAT !!!

Berbakti kepada Tuhan bukan hanya diukur dari tata cara ibadah atau liturgi, tetapi meliputi seluruh tindakan dan perbuatan dalam keseharian kita!!!


TUJUAN ALLAH MEMBERIKAN HUKUMAN

Baca:  Mazmur 39:1-14


"Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat;"  Mazmur 39:12


Sesungguhnya tidak ada dalam rancangan Tuhan untuk menghukum anak-anak-Nya!  Sebab rancangan Tuhan adalah  "...rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan"(Yeremia 29:11).  Semua yang baik itulah yang Tuhan perbuat bagi anak-anak-Nya!  


Rancangan Tuhan atas hidup anak-anak-Nya adalah diberkati, berhasil dan hidup berkemenangan.  Oleh karena itu Tuhan selalu mengerjakan mujizat dan perkara yang dahsyat bagi manusia.  Meski sudah mengecap kebaikan Tuhan, meski sudah mengalami pertolongan Tuhan, seringkali kita lari dari rencana Tuhan, tak mau taat kepada kehendak Tuhan dan memilih menempuh jalan hidup seenaknya sendiri.


Ketika sudah berkali-kali ditegur dan diperingatkan tapi tetap saja mengeraskan hati, Tuhan mengambil langkah terakhir yaitu memberikan hukuman.  


Tuhan menghukum bukan berarti benci kepada kita, tapi memiliki suatu maksud yaitu supaya kita segera berbalik kepada-Nya  (bertobat), supaya tidak tersesat, dan tidak mengalami kebinasaan.  Jelas sekali bahwa Tuhan terpaksa menjatuhkan hukuman demi kebaikan kita.  


Hukuman Tuhan bisa berupa masalah, sakit-penyakit, penderitaan, krisis, dan sebagainya.  Adalah lebih baik Tuhan menghukum kita untuk sementara waktu ketika kita masih hidup di dunia ini daripada kita harus mengalami penghukuman di neraka untuk selama-lamanya.  Jangan tunggu hukuman Tuhan datang terlebih dahulu baru kita mau bertobat.


     Bila saat ini kita harus mengalami  'hukuman'  Tuhan karena dosa dari pemberontakan yang kita perbuat, segeralah bertobat!  Waktu untuk bertobat adalah sekarang, bukan esok atau lusa!  "...selama masih dapat dikatakan 'hari ini', supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa."  (Ibrani 3:13).  


Ingat:!!!!!  

*Upah dosa adalah maut!  (Roma 6:23).  Jangan mau dihasut dan diperdaya Iblis yang selalu menawarkan kenikmatan dosa.

Tak ingin mengalami hukuman Tuhan?  Hiduplah taat dan jangan berbuat dosa lagi.*


KEDAMAIAN ADALAH TENTANG 

KEHADIRAN TUHAN


Arti kedamaian yang sesungguhnya adalah bukan tentang ketidakhadiran masalah dalam hidupmu, melainkan tentang kehadiran Tuhan dalam hatimu. Selama ada Tuhan di kehidupanmu, apapun masalah yang sedang menimpamu, tidak akan membuatmu kuatir.


Jagalah doamu, jangan biarkan hidupmu berjalan tanpa doa. Sebab di dalam doalah, kuasa Tuhan hadir atasmu dan penyertaan-Nya akan selalu ada sepanjang masa.


Tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya perlu menjalani hari ini dengan baik. Kita tidak membutuhkan kekuatiran, kita tidak membutuhkan ketakutan, sebab yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan ini hanyalah Tuhan Yesus.


Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah."

(Lukas 1: 30)


PERHATIKAN DENGAN 

SUNGGUH-SUNGGUH

Baca:  Matius 6:1-4


"Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."  Matius 6:3


Ada satu hukum Tuhan yang jika diperhatikan sepertinya tampak sepele, namun sangatlah penting, yaitu tentang memberi dengan diam-diam.  Artinya jika kita memberi kepada seseorang janganlah ada orang lain yang tahu, sebab sudah menjadi sifat manusia bahwa orang selalu ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain, yang mana sampai detik ini hal semacam ini selalu ada.  Persoalannya:  kita mau menaati perkataan Tuhan atau tidak.  


Yang jelas Tuhan tidak suka pada orang yang memberi dengan disertai tendensi, modus atau maksud2 terselubung

Tuhan berkata,  "...apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya."  (Matius 6:2).  


Memang, jika ingin dipuji orang karena pemberian kita, maka upah kita hanyalah sebatas pujian itu, tetapi jika kita memberi secara diam-diam sesuai dengan firman Tuhan, Bapa yang di sorga akan membalasnya.  


Karena itu  "Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."  (Matius 6:4).  Dan tentu saja di dalam memberi, kita harus memberi dengan bijaksana dan mohon hikmat dari Roh Kudus, supaya pemberian kita sampai pada sasaran yang tepat.


     Hari ini Tuhan mengajar kita untuk benar-benar bersandar dan berharap hanya kepada-Nya saja, sebagai satu-satunya penolong dan sumber berkat dalam hidup ini.  Tidak perlu kita berusaha dengan akal untuk mencari atau mendapatkan pertolongan dari manusia, jangan berhutang dibalik persembahan atau menggunakan modus atau motivasi lain dalam memberi , karena dengan berdoa dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan, Tuhan akan membukakan semua saluran berkat bagi kita.  Tuhan sudah memberikan kunci untuk mengalami berkat-berkat-Nya yaitu mengutamakan dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup kita  (Matius 6:33).  


Ingaat 

Firman Tuhan kelihatannya sangat sederhana, tapi mendatangkan berkat yang luar biasa bagi setiap orang yang mau memraktekkannya Memberi dengan motivasi benar pasti mendapatkan balasan dari Tuhan!

Posting Komentar untuk "Tahun 2023 apakah Kamu Siap?"